Sep 18, 2014

Seminar Kebudayaan Indonesia Oleh Annisa Shalihah

Konnichiwa minna san!
 
Tidak terasa weekend udah lewat lagi nih.  Sedikit cerita tentang kegiatan saat weekend kemarin yah.  Tentang kegiatan grup pengajianku yang keren.  Namanya Annisa Shalihah, merupakan grup pengajian wanita Indonesia di Kyoto. Sabtu, 13 September 2014 menggelar Seminar Kebudayaan Indonesia di Kyoto International Community House / kokoka 京都市国際交流会館。Peserta seminar dibatasi untuk 20 orang, targetnya adalah para Nihon Jin (orang Jepang), biaya registrasi 1.000 yen untuk dua sesi (sesi kedua yaitu Hijab Class, dilaksanakan minggu depannya).  Ketua panitianya adalah Mbak Ulil, sahabat dekatku di sini.  Makanya saya harus menomorsatukan event ini, padahal di hari yang sama saya juga ikutan bazaar di Kyoto Eki (stasiun Kyoto) ^^

Selain mempresentasikan kekayaan alam dan keanekaragaman budaya Indonesia, juga diadakan workshop singkat memainkan angklung, memakai baju adat dan icip-icip penganan khas berupa Tempe Mendoan dan Klepon.  Selain ibu-ibu pengajian, rekan-rekan dari Persatuan Pelajar Indonesia di Kyoto (PPI-Kyoto) juga turut membantu kelancaran event ini.  Alhamdulillah ada sumbangan souvenir berupa paket kartu pos dan handbook dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  Indonesia bekerjasama dengan Konsulat Jenderal Indonesia di Osaka.  


  
Dalam seminar ini juga dipaparkan Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam.  Sehingga penting banget memberikan pengertian kepada peserta alasan kenapa kita ngga mengkonsumsi minuman beralkohol serta makanan yang mengadung babi (fyi, disini makanan halal lebih sulit diperoleh lho!).  



Tiba giliran workshop alat musik angklung, teman-teman dari PPI Kyoto tampil  memainkan lagu lawas berjudul Furusato.  Yang terdengar di ruangan kemudian bukan hanya suara angklung tapi juga suara senandung dari para peserta seminar.  Mereka begitu bahagia mendengar lagu yang akrab dengan keseharian mereka disajikan apik menggunakan angklung, alat musik yang sama sekali asing bagi mereka. Selanjutnya masing-masing peserta diberi kesempatan untuk mencoba memainkan sendiri lagu tersebut atas arahan dari teman-teman PPI Kyoto.
source: kak wina sanusi
source: kak wina sanusi

Dalam kepanitiaan, tugas inti saya adalah membantu memakaikan baju tradisional Indonesia.  Nah sebagai orang Makassar, maka pemakaian Baju Bodo dipercayakan pada diriku :) Seminggu sebelum hari pelaksanaan, Aiko san (teman di preschool 'Takano Jidoukan') mengabarkan akan ikutan dalam seminar ini.  Maka, saat itu juga di benak saya sudah ada bayangan baju adat apa yang akan dia kenakan nanti, tentu saja Baju Bodo berwarna ungu ini ^^
Ewako Makassar!

source: Kak Wina Sanusi
source: Kak Wina Sanusi
Seminar berakhir tepat pukul 3.30 sore seperti yang telah di jadwalkan.  Wajah penuh suka cita terpancar dari para peserta saat meninggalkan ruang seminar.  Mereka pulang membawa pengalaman baru: bahwa Indonesia bukan hanya Bali semata, bahwa Indonesia letaknya bukan di Afrika, bahwa bambu pun bisa mejadi alat musik yang mengagumkan, bahwa rasa Tempe agak menyerupai daging ayam :)

Dalam perjalanan pulang saya berpapasan dengan seorang kakek yang menggelar lapak live painting nya di seberang kebun binatang.  Peralatan lukisnya sederhana saja: pensil graphite, kuas cina, dan air.  Beliau membuat lukisan wajah menggunakan pensil graphite terlebih dahulu kemudian mengoleskan  kuas basah sebagai sentuhan akhir.  Biayanya 1.000 yen per wajah orang dewasa, 400 yen untuk wajah anak-anak.  Saya bayangkan jika berada di posisi si kakek itu, pastilah akan senang sekali mendapat pelanggan mengingat tidak semua orang berminat mengeluarkan uangnya untuk 'membeli' karya pelukis jalanan.  Apa daya saya tidak memiliki waktu yang cukup luang di sore itu (padahal pengen banget dilukis).  Saya harus pulang menggantikan suami mengurus anak-anak karena dia ada agenda rapat dengan koleganya.  Saya hanya bisa berdoa dalam hati semoga si kakek mendapatkan penghasilan yang cukup dari keahlian melukisnya  :')


Setibanya di apato langsung buru-buru membuka omiyage dari Aiko san, temanku yang tadi pake Baju Bodo itu loh.  Wah, dapat bingkisan totebag, plushie, dan bros unik.  Semunya itu bikinannya sendiri. Kawaii ne!  Aiko san dan suaminya punya shop kecil-kecilan bagi produk handmade mereka.  Suaminya yang mendesain, Aiko san yang menjahit.  Seru ya! Sila kunjungi shop mereka di sini. Arigatou gozaimasu Aiko san, me likey it alot!


Oke, sekian dulu.  Terimakasih udah mampir kemari.  Tetap semangat beraktifitas.  

Matta ne...

Sep 6, 2014

Berkenalan Dengan (Karya) Yoko Sueyoshi

Konnichiwa minna san!

Gimana weekend kalian? Semoga mengagumkan.  Saya percaya takdir bekerja dengan caranya yang misterius.  Jika saja 'jalan-jalan cantik' weekend lalu kami ngga membeli tiket bus ichi nichi (one day pass), jika saja suami saya tidak mencium aroma tak sedap dari popok Akachan, jika saja kami tidak transit di LOFT mall  untuk ganti popok (dan ternyata tidak jadi karena yang tadi itu hanya aroma kentut Akachan belaka), mungkin sampai hari ini saya tidak akan mengenal karya-karya Yoko Sueyoshi.  Tautan berantai yang aneh ya :/


Dan inilah yang tersisa dari cerita weekend minggu lalu.  LOFT mall menggelar event Cocotte Festival bertepatan dengan Kyoto Friend's Day.  Tepat di balik etalase yang berhiaskan tenda karnaval itu terpajang  indah tiga lembar ilustrasi original yang entah karya siapa (belakangan baru tahu kalau ketiganya hasil live painting dalam event tersebut).  Kesan pertama yang saya tangkap, ada 'jiwa' Chihiro Iwasaki di dalamnya.  Sekali lagi, saya jatuh hati pada karya seorang seniman yang belum saya kenal namanya...

source: totannoyane.hossy-nakkie.gonna.jp


conte on paper
acrylic on paper
marker + watercolor on paper

So many things to buy, so little money T____T
Lama banget berputar-putar mencari benda apa kiranya yang sanggup terbeli dengan duit seiprit dalam dompet.  Kesimpulannya, kartu pos adalah pilihan termurah diantara ratusan merchandise yang terpajang.  Dan memilih sebuah kartu pos diantara ribuan kartu pos bergambar indah itu beneran bikin manyun pemirsah >.<






Akhirnya saya biarkan takdir menuntun kaki ini melangkah ke depan gerai kartu pos yang akan terbeli.  Semacam gambling memilih kancing baju saat test pilihan ganda?  Saya rasa pilihan kali ini lebih kompleks  *perbaiki toga yang miring


Inilah keenam kartu pos hasil buruan saya, harganya 115 yen per lembar (belum termasuk pajak, hiks..): 
1 lembar kartu pos 'Cocotte Festival' (yg ini gartis ^^)
2 lembar lembar kartu pos karya seniman yang melakukan live painting tadi
3 lembar kartu pos karya tiga seniman yang berbeda.  


Apalah arti 230 yen demi membawa pulang dua lembar karya mengagumkan dari seniman yang namanya masih misterius.  Pada akhirnya, tidak ada pengorbanan yang sia-sia.  Sueyoshiyoko.com, tercetak indah di laman belakang kartu pos.  Terimakasih atas rangkain huruf Romanji tadi (nasib karena ngga bisa baca Kanji nih) yang mengantarkan saya memasuki dunia imajinasi milik sang artist.  Sueyoshi san, dozo yoroshiku onegaishimasu ^^

http://blog.sueyoshiyoko.com/?eid=824464




source: http://usaring.sblo.jp/article/42367895.html

Brilliant! Lukisan diatas panel kayu ini mengingatkan saya pada lukisan tanah liat karya guru lukis saya Bang Zaenal Beta :)
source: papergardens.wordpress.com
Melihat karya-karya diatas bawaannya pengen berhenti melukis deeeh, hiks.  Sederhana saja tapi kok bisa menyesakkan dada melihatnya? *meratap di sudut kamar

Well, pada postingan yang akan datang giliran berkenalan dan mengintip karya seniman Kyoto lainnya hasil perburuan kartu-kartu pos tadi.  Semoga bisa menginspirasi para sahabat Perduliar ^^

Jya, matta!