Nov 25, 2011

Tribute to Bang Pepeng

Terinspirasi saat menonton tayangan Kick Andy (dalam episode Gerakan Moeke Kartoen goes to MURI) yang menghadirkan sosok Bang Pepeng (lengkap dengan tempat tidurnya) ke dalam studio.  Seketika saya teringat adegan film saat Frida Kahlo akhirnya bisa menghadiri pameran tunggalnya dengan cara diboyong di atas ranjangnya.  Keduanya jelas memiliki keterbatasan fisik, namun hal itu tidak menghalangi semangat mereka untuk berkarya.  Salute!

Color Me Bed | Sakura Koi Watercolor | 2010


beberapa karya lukis Frida Kahlo dan karikatur wajah Bang Pepeng yang menjadi detil dalam ilustrasi diatas, bisakah kalian menemukannya? (klik pada gambar untuk tampilan lebih besar)

Nov 24, 2011

Lukisan Untuk Daeng Tata

Daeng Tata hanyalah seorang tukang becak biasa yang selalu mangkal di pelataran parkir Benteng Fort Rotterdam.  Sering juga beliau memarkir becaknya putihnya tepat di depan gedung DKM (Dewan Kesenian Makassar) yang terletak di dalam kompleks benteng.  Selain memegang duplikat kunci gedung DKM,  Dg. Tata juga bertanggung jawab atas kebersihan gedung tersebut.  Mengenal beliau lebih dekat artinya kita  sudah bisa mengakses wc di lantai dua gedung DKM yang selama ini selalu tergembok :)

Becak Dg. Tata | acrylic on canvas | 2010

Daeng Tata himself

Nov 23, 2011

Give Away For The First Follower

Unfinished Gown, ilustrasi cat air sebagai give away untuk follower pertama di blog ini.  Ini adalah lukisan cat air pertamaku yang bertemakan suasana gelap.  Ternyata susah sekali untuk membuat warna ruang gelap berikut warna cahaya yang menerangi objek.  Tentu saja saya masih HARUS banyak latihan!

Inayah Mangkulla, follower yang beruntung itu.  Pertama kali mengenalnya melalui FB beberapa tahun lalu.  Impian semasa kecilnya adalah menjadi pelukis.  Semoga saja give away ini bisa membangunkan si gadis kecil dari mimpinya, lalu mulailah ia membuat lukisan-lukisannya...

Nov 22, 2011

[Ilustrasi] Pohon Ibu

Oktober 2011, Hasrul Eka Putra, seorang teman di FB (yang ternyata adalah adik angkatan di Jurusan Hubungan Internasional-UNHAS) meminta kesediaan saya untuk menggarap (lagi-lagi) sampul buku antologi puisinya bersama teman-teman penyair dari Gorontalo.  Mereka ini tergabung dalam Komunitas Sastra Tanpa Nama (KSTN) Gorontalo.

Hasrul memutuskan untuk menghubungi saya setelah sebelumnya melihat salah satu sketsa saya (judulnya Gerimis Pagi) yang terpampang di FB, dan menurutnya cukup nyambung dengan judul buku antologi yang sedang mereka garap.

Untuk proses penggarapan ilustrasi, saya meminta Hasrul menjelaskan hal apa saja yang ingin disampaikan dari sampul buku tersebut.  Selanjutnya, dia menyertakan puisi Pohon Ibu dengan maksud agar bisa leluasa menginterpretasikan sendiri puisi yang kelak akan dijadikan sampul buku mereka.

pohon ibu

Setiap pagi kuceritakan kisah tentang ibu.
tentang pohon yang tumbuh menggelantung tanpa akar.
sambil tertidur, anakku berpulang ke rahmat mimpi bertemu pohon, ketemu ibu. sebab pohon adalah mimpi. Sebab pohon adalah juga ibu, yang tiap minggu kita belah pusaranya. sekeping jadi doa,
yang lainnya jadi luka





...karena ibu adalah doa...
sepasang burung yang diadaptasi dari sketsa Gerimis Pagi
done with Pentel watercolor on Canson watercolor paper
signature as finishing touch :)


 Pohon Doa | watercolor on paper | 2011
hasil olah-digital oleh tim kreatif mereka
Saat postigan ini saya buat, bukunya masih dalam tahap penyelesaian.  Mari berdoa, semoga bukunya segera terbit, dan dunia sastra siap-siap menyambut kehadiran mereka, para penyair muda Gorontalo. 

Foto terbaru jika bukunya telah sampai ke tangan saya akan segera menyusul :)

Nov 20, 2011

[Ilustrasi] Serapah Ibu

2011, Mba Sandra Palupi, seorang sahabat di FB meminta kesediaan saya untuk menggarap (lagi-lagi) sampul buku antologi puisinya yang berjudul 'Serapah Ibu'.  Tanpa pikir panjang saya langsung menyanggupi.  

Kesamaan masa kecil kami sebagai korban child abused membuat kami bersahabat.  Kami berdua menaruh minat pada puisi (meskipun akhirnya pelan-pelan saya merasa lebih hidup dari karya ilustrasi dibanding puisi).  Mba Lupi pengagum lukisan-lukisan seri Black Diamond-ku.  Saya pun menjadi pengagum puisi-puisi feminist nya.  Ow ya, Mba Lupi juga menyisipkan lukisan seri Black Diamond ke dalam bukunya :)

Terinspirasi dari pengalaman saya sewaktu berdomisili di Paseban Barat-sebuah pemukiman padat penduduk di pusat Jakarta; bagaimana anak-anak kecil di sana tumbuh dan berkembang dalam hujan makian orang tua mereka hanya karena masalah yang sama sekali belum bisa dipahami oleh otak-otak belia mereka...
Dongeng Megapolitan | watercolor on paper | 2010

Nov 19, 2011

[Ilustrasi] Dialog Merah Pada Malam

2010, Bang Andreas T. Wong, seorang kenalan di FB  minta tolong dibuatkan ilustrasi sampul buku antologi puisinya.  Buku ini merupakan proyek keroyokan temanku itu bersama dua penyair Palembang lainnya yang biaya produksinya ditanggung oleh Dinas Pendidikan Pemerintah Sumatera Selatan. Asik ya! 

Berdasar judul buku 'Dialog Merah Pada Malam', sebenarnya saya bingung harus menggambar apa.  Namun setelah diberi tahu bahwa secara garis besar buku ini mengulas keadaan bumi Indonesia yang sekarat karena korupsi dan pengrusakan alam yang merajalela, akhirnya pelan-pelan ide itu muncul juga; janin (mewakili generasi muda), yang bertumbuh dalam rahim bumi pertiwi yang tidak sehat lagi.

Hasil Googling, akhirnya saya pinjam da Vinci Fetus karena di rumah sama sekali tidak ada referensi gambar janin...

Bunda Pertiwi | watercolor on paper | 2010

eh, ternyata diolah-digital lagi oleh temanku itu

Nov 17, 2011

[Ilustrasi] 100% Dianggap Buku Puisi

2008, lingkaran kehidupan kami berlima (saya, mba Helga Worotidjan, Bang Jeppe Indra Wisudha, Joey Mahargia, dan Asha Ray) saling bersinggungan di dunia Facebook, terutama dalam hal puisi.  Komunikasi yang intens menjadikan kami bersepakat untuk membuat sebuah proyek keroyokan yaitu menerbitkan sebuah buku antologi puisi.  Bagi saya yang tidak produktif puisi, harus keteteran juga saat masing-masing dari kami harus menyumbang 20 puisi untuk menggenapi target 100 judul puisi tersebut. 

Karena ini adalah proyek dari kita-oleh kita-untuk kita, maka teman-teman bersepakat memakai salah satu lukisanku untuk dijadikan ilustrasi sampulnya.  Biaya cetaknya buku kami bagi lima, 500 eksemplar untuk cetakan pertama.  Masing-masing mendapat jatah 100 eksemplar yang distribusinya diserahkan sepenuhnya pada masing-masing penulis.

Fakta unik dibalik pembuatan buku ini bahwa sejak berkenalan di dunia maya dan menggarap ide antologi ini, kami berlima (saya dan Asha di Makassar, yang lainnya di Jakarta) sama sekali tidak pernah bertemu muka sampai akhirnya buku ini naik cetak...

Dandelion | oil on canvas | 2008

The Avatar

Avatar atau Profil Picture atau Display Picture atau apapun istilahnya adalah wajib punya jika kamu sudah terjerat oleh situs jejaring sosial

Konsep ilustrasi avatar adalah 'mirip-miripan' dengan foto aslinya.  Sangat jauh berbeda dengan konsep avatoon (avatar cartoon) yakni membuat versi kartun si pemilik foto.  Dimulai dari tahapan sketsa lalu mewarnainya dengan cat air, semua dikerjakan secara manual dengan penuh ketulusan dan kecintaan terhadap lukisan cat air :)

Bagi yang berminat dibuatkan bisa langsung email ke perduliart@gmail.com ya ^^











The Making Of OKAVANGO RIVER



sebelum dikoreksi Bang Mike Turusy:  warna air terlalu pekat dan terkesan statis

setelah dikoreksi Bang Mike Turusi:  air menjadi transparan, badan mereka nampak terbenam, riak airnya lebih dinamis
kini lukisan ini berada di ruangan Ketua Jurusan Hubungan Internasional-Universitas Hasanuddin, Makassar :)

Nov 15, 2011

The Making Of ADDIES ABABA

Jika kau adalah perempuan Afrika, yang memiliki rata-rata 6-8 orang anak, dan katakanlah usia masing-masing anak terpaut satu tahun saja, maka bersiaplah untuk menggendong anak kecilmu kemanapun kau bekerja (berladang, mencari air, dll) selama kurang lebih enam tahun lamanya!



The Making Of RWANDA

Perang antar suku Tutsi dan Hutu tidak menghasilkan apapun selain menjadikan anak-anak Rwanda yatim piatu di usia mereka yang masih terlalu dini... 

Nov 14, 2011

My Black Diamond; My Guilty Pleasure

Alasan saya suka melukis orang Afrika sama seperti alasan kalian yang suka ngemil atau merokok atau shopping, atau kebiasaan apapun yang menyenangkan hati.  Tapi akhirnya disertai rasa bersalah karena sebagai orang Indonesia, saya malah jarang sekali mengangkat tema lokal. 

Mengangkat tema ibu (perempuan) dan anak bukanlah tanpa alasan.  Kaum perempuan dan anak-anak Afrika adalah objek yang indah sekaligus tangguh namun posisinya paling rentan menderita oleh kebudayaan mereka sendiri. 
Adalah perempuan Afrika yang harus merasakan sakitnya di 'sunat total' ketika beranjak menjadi perempuan dewasa.  Adalah perempuan Afrika yang harus siap melahirkan berkali-kali hinga memiliki banyak anak agar para kakek atau nenek mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk bereinkarnasi kembali dalam tubuh cucunya.  Sementara para anak harus kuat berjalan beberapa kilometer hanya untuk mendapatkan seember air keruh berlumpur di lingkungan mereka yang kering.  Para anak selalu hidup dalam ketakutan jika sewaktu-waktu mereka diculik untuk dijadikan tentara dan dipaksa berperang melawan suku lain.  Para anak harus tegar melanjutkan hidup setelah melihat para orang tua mereka dibantai di hadapan mereka dalam perang antar suku.   

Sierra Leone; Nyaman Dalam Buaian, 2008

Djibouti; Di Tepi Sumur Kering, 2008

Rwanda; Mata Bola PingPong Itu..., 2010

Addies Ababa; Aman Dalam Buaian, 2010

Okavango River; Lelap Dalam Buaian, 2010

Nov 11, 2011

MARLEDY the lady

Ledy, begitulah nama yang sering disebut-sebut Bang Mike Turusy sebagai salah satu contoh sukses murid kebanggaannya, ketika saya belajar melukis realis dengan beliau di awal tahun 2009.  Dari katalog pameran yang tergeletak di sudut rak buku sanggar MakassArt, rupanya di tahun 1996 Ledy sudah berpameran bareng Bang Mike dan Bang Zaenal Beta dalam Contemporary Art Event Visual Exhibition 2006 bertajuk Sudahi Sepi yang digelar Imperial Aryaduta Hotel.  Wow!! saya terkagum-kagum dalam hati. 

I am the way
Oktober 2009, FSD (Fakultas Seni dan Desain) Art Moment ke-1 digelar oleh Universitas Negeri Makassar.  Saat mengunjungi pameran lukisan yang diadakan di bagunan eks-gereja Benteng Fort Rotterdam, saya sempat mengagumi sebuah lukisan pemandangan dengan sosok Nabi Isa yang terhampar di langitnya. Lukisan dengan ukuran cukup besar, dipajang tanpa keterangan judul dan nama pelukis (salah satu keteledoran panitia pelaksana saat itu).  Belakangan baru saya tahu bahwa lukisan tersebut adalah karya Ledy saat masih menjadi mahasiswa di Fakultas Seni UNM. Wow!!  saya terkagum-kagum dalam hati...

lukisan yang lama tersimpan di Hotel Aryaduta
Maret 2010, MakassArt Gallery menggelar pameran lukisan dalam rangka International Women's Day oleh Lima Pelukis Perempuan (empat murid baru Bang Mike plus Marledy).  Akhirnya saya berkesampatan mengenal lebih dekat dengan Ledy.  Sayangnya saat itu dia berhalangan hadir karena tengah berada di Jogyakarta, dan hanya menyertakan lukisan lawasnya yang (ternyata) sudah tersimpan lama di Hotel Aryaduta, tempat pameran berlangsung.  Wow!! saya terkagum-kagum dalam hati...


April 2010, tepat di Hari Kartini akhirnya Marledy menyanggupi untuk datang berpameran bersama kami lagi.  Tidak seperti karya-karya sebelumnya, kali ini Marledy datang dengan karya yang sangat-sangat kontemporer, luar biasa fresh untuk ukuran seni lukis Makassar.  Cerita yang sempat beredar di sanggar MakassArt, kepergiannya ke Jogya untuk menenangkan diri.  Makanya ia berkali-kali menolak untuk kembali ke Makassar karena sedang menghindari seseorang."Untung dia hanya bunuh diri dalam karya," begitu komentar Bang Zaenal Beta saat memasang spanram pada karya-karya terbaru Marledy beberapa hari menjelang pameran lukisan Lima Perempuan


Apalah artinya belajar lukis lima kali pertemuan pada Bang Mike, bila dibandingkan dengan pengalaman Ledy yang bertahun-tahun belajar pada Bang Mike (bahkan sampai harus nge-kos di rumah beliau).  Bukan hanya pada teknik lukis dan ide-ide cemerlang di setiap karyanya.  Pun pada jenjang pendidikan seninya yang kini tengah di selesaikannya di Pascasarjana Institut Seni Indonesia-Jogyakarta,  membuatku terkagum-kagum. WOW!!! saya membatin berhari-hari, bertahun-tahun...

Sukses selalu, Ledy!  Makassar bangga punya seniman perempuan seperti dirimu