Oct 31, 2012

Selamat Jalan Kak Oppo'

bersama Bang Zaenal Beta dan Kak Oppo' di gerbang  Benteng Fort Rotterdam 

Berita duka itu tiba via Twitter sehari setelah saya mengucapkan selamat ulang tahun pada Abangku. Terasa ironis. Tapi begitulah episode kehidupan. Tawa-tangis, bahagia-sedih, semua ada waktunya datang menyapa. 

Ka Oppo', saudara kami di Indonesia's Sketcher Makassar telah berpulang menghadap Sang Maha Pencipta akibat penyakit radang paru yang di deritanya. Saya tidak menyangka, sketch on location di Kampoeng Popsa bulan Februari 2012 adalah kenangan terakhir bersamanya. Hari itu kami memang tidak banyak ngobrol seperti biasanya, dikarenakan saya tertalu fokus pada agenda utama rapat penetapan kepengurusan IS-Mks dengan para admin lainnya. Yang saya ingat hanyalah ucapan salam perpisahan darinya (dalam rangka kepindahan saya ke Jepang).

sketch on location terakhir bareng Kak Oppo' (t-shirt merah dengan inisial SBY), Kampoeng Popsa 
Pertama kali kenal dengan Kak Oppo' saat dia ikut sketch on location di Pantai Biring Kassi' (tepat depan Benteng Fort Rotterdam, samping Kampoeng Popsa).  Profesi utamanya adalah musisi, seorang gitaris  aliran klasik dan bossanova.  Tiap malam kita akan mudah menemuinya 'manggung' bersama grupnya di kafe  Terrace 52, Makassar Golden Hotel.  Meskipun demikian, minatnya pada seni live sketching begitu besar sehingga dia menjadi salah satu anggota IS-Mks yang paling rajin ikut kegiatan sketch on location.  Sampai-sampai rajin nginap di Fort Rotterdam Art Gallery (sekretariat IS-Mks), menjadi volunteer menemani Bang Zaenal Beta mengurus galeri.  Saya menyaksikan sendiri bagaimana kemajuan sketsa yang dihasilkannya, mulai dari yang biasa-biasa saja hingga  akhirnya memberanikan diri melukis di atas kanvas menggunakan cat minyak (sayang saya tidak sempat mengabadikan karya lukisannya).  

nyeket bareng Mas Hady (lokasi: Benteng Fort Rottterdam Makassar)
Satu hal yang paling khas dari sketsa karya Kak Oppo' adalah tanda tangannya yang begitu mendominasi sebagian besar area sket.  Alasannya agar perhatian orang yang melihat terpecah, sehingga tidak terlalu fokus pada hasil sketsanya yang masih jauh dari kata bagus.  Kami pun tersenyum-senyum mendengarnya.  

Sembari mengenang, saya ingin berbagi semangat Kak Oppo' menekuni kegiatan sketch on location bersama teman-teman Indonesia's Sketcher Makassar.  Selamat jalan Kak Oppo', beristirahatlah dengan tenang di sisiNYA.  Karya-karyamu abadi di hati IS-Mks :')

sketch on location di Pantai Biring Kassi' , Juli 2010





Sketch on location di Masjid Al -Markaz Al -Islami, 15 Agustus 2010




Sketch on location di Pasar Baru, 26 Agustus 2010








Sketch on location di Penjara Pengeran Diponegoro, 12 September 2010





Sketch on location di sekitaran Benteng Fort Rotterdam, 19 September 2010





Sketch on location di Taman Macan, 3 Oktober 2010


Oct 30, 2012

Sketch + Conte + Watercolor = Suizu Toshikazu


Kebiasan saya ketika berada di stasiun kereta api adalah hunting brosur/leaflet yang ilustrasinya bagus-bagus.  Lumayanlah buat cuci mata sekaligus dipelajari tekniknya :)
Hari itu, di stasiun Demachiyanagi saya mendapatkan leaflet pameran (Osaka, 26 September - 7 Oktober 2012) karya Suizu Toshikazu, seorang seniman Conte. Sebenarnya saya duluan mengenal karya-karyanya dibanding nama beliau.  Beberapa minggu setelah kedatangan saya di Kyoto, saya sempat mengabadikan beberapa poster yang ilustrasinya eye catching  tentang festival yang akan berlangsung.  Poster dengan ilustrasi sketsa Conte tersebut dipajang di setiap stasiun K.A. Keihan, yang tujuh bulan kemudian baru saya tahu nama senimannya.  



Suizu Toshikazu dilahirkan di Shimane Prefektur, Chugoku-Jepang pada 1951.  Menamatkan pendidikannya di Department of Art, Osaka City High School pada 1970.  Di tahun 1974  resmi menjadi pegawai Keihan Electric Railway Co., Ltd.  Memulai pameran tunggal karya ilustrasi Conte tahun 1998.

Sampai saat ini saya belum menemukan website resmi milik sang seniman.  Jadi semoga saja teman-teman bisa menikmati karya-karya beliau meskipun hanya berupa hasil scan dari leaflet yang saya pulang itu :)












Oct 28, 2012

Dirgahayu, Bang!

sketsa 2009-2011

Suhu saat ini 17 derajad Celcius, lagu latar yang sedang terdengar dari FM 80,2 MHz adalah 'I Was Born To Love You'-nya Queen.  Sedikit lebay memang, tapi lumayanlah untuk jadi theme song yang tepat disela-sela alunan J-Pop yang sama sekali saya tidak tahu artinya.


Selamat ulang tahun, Bang.  Semoga dilimpahkan rahmat, karunia, kesehatan, keselamatan, dan semua yang terbaik.  'Bermuda dan Terpelajar' tagline untuk ultah ke-40 di hari ini kan?  Enjoy your life, dear.


Big hug and kisses from Mamyto, Zaidaan, Zaila, Zaira.


P.S. Hadiah dari saya insyaallah menyusul di awal Februari  nanti :)

Oct 25, 2012

Kisah Water Tank Brush

Water Tank Brush merupakan teknologi terkini dari pengembangan bentuk kuas konvensional.  Terbuat dari bahan plastik dan bulu kuas sintetis.  Gagangnya berbentuk tabung untuk menampung air.  Air akan mengalir menuju ujung bulu kuas bila gagangnya di pencet.  Bila dibandingkan dengan kuas konvensional yang butuh wadah air terpisah sebagai tempat mencelupkan kuas setiap kali akan digunakan, bentuk kuas water tank sangat cocok dipakai melukis/sketsa outdoor yang  notabene butuh peralatan yang serba praktis.  

Saya sendiri mulai aktif menggunakan Koi Water Brush sejak pertama kali bergabung di Indonesia's Sketchers pada pertengahan 2009.  Ada dua cara untuk mendapatkannya:
  • beli kemasan satuan, dengan variasi ukuran Small Petite (round #2), Medium Milieu (round #4) dan Large Grand (round #8)
  • contoh kuas kemasan satuan (sumber: prweb.com)
  • beli satu paket lengkap dengan Sakura Koi Watercolor (kemasan 12, 18 dan 24 warna)

contoh kuas dalam paket cat air (sumber: artistsupplysource.com)
Awal 2012 saya membeli tiga buah Koi water brush ukuran S, M, L.  Diantara ketiganya, kuas ukuran 'S' agak kurang nyaman saat digunakan.  Ujung bulu kuas selalu 'kebanjiran' air yang mengalir dari tabungnya meski tanpa dipencet sekalipun.  Setelah saya bongkar, ternyata kuas ukuran 'S' tadi tidak memiliki semacam filter yang berguna untuk mengatur intensitas air.  Saya telah menanyakan solusi masalah ini ke beberapa teman sketcher, namun saran mereka hanya satu: beli baru saja :)

penampakan bagian dalam kepala kuas dengan  'filter' (yang ada bintik putih ditengahnya) dan yang tanpa 'filter'

Sekedar saran, jika memungkinkan sebelum membeli pastikan dulu bagian dalam kepala kuas ada bintik putihnya seperti pada gambar diatas (baiknya beli langsung dibanding online) untuk menghindari peristiwa 'kebanjiran' pada kuas.  Benar-benar sangat tidak nyaman lho!  

Nah, kalau gambar yang ini hanya untuk share pengalaman saja.  Pertama kali beli water tank brush di Jakarta (2009), tabung kuasnya saya isi dengan air keran biasa (saat itu saya berdomisili di Salemba, Jakarta Pusat).  Tidak sampai seminggu, muncul bintik-bintik hijau kehitaman di dalam tabungnya, semakin lama semakin bertambah dan meluas. Kejadian serupa tidak pernah terulang dengan air keran manapun selain air dari Salemba tadi.  Hingga saat ini saya masih menyimpan kuas yang lumutan itu sebagai kenang-kenangan yang sangat berharga: sebegitu parahnya kah kondisi air tanah di Jakarta? :o

Oct 24, 2012

Berburu (Karya) Takiko Kuroiwa

Bermula di pekan terakhir bulan Maret 2012 saat melewati stasiun K.A. Demachiyanagi, mata saya tertuju pada ilustrasi bergambar pemandangan musim Sakura.  Ilustrasi itu tertera pada sampul tabloid 'K Press' Keihan News.  Dalam menyambut musim semi, tabloid  edisi ini mengupas tuntas beberapa lokasi yang pupuler untuk menyaksikan Sakura bermekaran.  Selain itu juga terdapat peta kuliner, serta event spesial yang dijadwalkan berlangsung selama bulan April.  Keihan News sendiri merupakan tabloid milik Keihan Railway, sebuah jawatan kereta api yang melayani rute antar tiga kota besar di Jepang: Osaka-Kyoto-Shiga. 

deretan tabloid dan brosur adalah pemandangan yang menyegarkan di setiap stasiun K.A.

Saat melihat ilustrasi Sakura tadi, seketika saya teringat karya-karya cat air Chihiro Iwasaki yang sederhana dan manis.  Takiko Kuroiwa, begitulah signature yang tertera pada sudut kanan bawah ilustrasi.  Berhubung saya sedang belajar (otodidak) melukis cat air, segera saja saya mengambil satu buah tabloid untuk dijadikan referensi. Begitu tiba di apato, hal yang pertama saya lakukan (setelah semua urusan domestik beres tentunya) adalah Googling nama ilustratornya.  Bukan hanya ilustrasi cat air, Takiko juga piawai dalam ilustrasi digital, paper cut dan 3D.  Sederhana, itulah yang terpancar karya-karya Takiko.  Tidak ada teknik lukis dan pewarnaan yang rumit pada ilustrasi cat airnya, serta tema yang diangkat begitu lekat dengan keseharian.  

Kini saya punya rutinitas baru yaitu berburu karya Takiko Kuroiwa di stasiun subway. Setiap akhir bulan bisa dipastikan saya membawa pulang tabloid 'K Press' terbitan terbaru yang berhiaskan ilustrasi karya Takiko pada sampulnya :) 

berhubung tiba di Kyoto pada pertengahan Maret, jadi koleksi tabloidnya start bulan April