Dec 28, 2013

Mengintip Persiapan Keluarga Baso & Besse

Konnichiwa!
Saat ini saya sedang mempersiapkan sesuatu yang istimewa untuk dipajang di art shop , berupa nesting doll Keluarga Baso & Besse.  Nesting doll ini berupa boneka kayu khas Rusia berjumlah lima buah yang dapat disusun mulai dari ukuran yang terkecil hingga terbesar.  Keluarga Baso dan Besse sendiri merupakan perwakilan dari budaya Bugis-Makassar; yang laki-laki menggunakan Jas Tutup lengkap dengan songkok to Bone sementara yang perempuan menggunakan Baju Bodo, semuanya mengenakan Lipa' Sa'be (sarung tenun sutra).  Buat teman-teman yang hobi mengoleksi matryoshka, mungkin sudah bisa mengancang-ancang untuk memiliki seri Keluarga Baso & Besse ini.  Nantikan kehadiran mereka di galeri mungil saya awal tahun depan ya ^^

(cikal bakal) Keluarga Baso & Besse seri Pakaian Formal
(zoom in) Ambo' Baso

finishing touch by my bro @hollaGHOST (NeverMindEnemy)

(cikal bakal) Keluarga Baso & Besse seri Hobi Keluarga

Dec 26, 2013

Sibuk Ngurus Lapakan

Konnichiwa!
Apa kareba semuanya?  Baru bisa update blog lagi nih dikarenakan kesibukan mengurus lapakan di alamat baru dan akun FB.  Jualannya masih sama yaitu jualan lukisan.  Jika sebelumnya di blog ini saya jualan lukisannya agak membabi buta (menawarkan dagangan seperti di online shop kebanyakan), maka di lapakan baru ini hanya karya-karya terbaik yang saya pajang.  Jualan lukisan sekiranya diperuntukkan bagi mereka yang ingin memenuhi kebutuhan psikologis (khususnya esteem needs), jadi dijalankan dengan tenang dan elegan, tidak terburu-buru seperti sedang kejar setoran >.<

Alhamdulillah, dalam sebulan ini sibuk bolak-balik kantor pos mengirimkan paket ke USA dan Flores-NTT.  Sibuk bolak-balik ke kantor pos dalam artian yang sebenarnya:  mendorong twin stroller ditemani anak pertama (8 thn), jalan kaki ke kantor pos kecamatan yang berjarak hampir satu kilometer (dikalikan dua dengan jalan pulang).  Berlatar belakang musim dingin, persiapan ke kantor pos butuh sekitar setengah jam: pertama, mengenakan baju + jaket + kaos tangan + kaos kaki + boots + kupluk pada anak kembar saya yang berusia 2,5 tahun (belum adegan kejar-kejarannya saat mereka lagi tidak mood dipakaikan baju).  Setelah keduanya beres, giliran saya mengenakan jaket + kaos tangan + kaos kaki + boots + kuplukSelanjutnya mengeluarkan twin stroller lalu mendudukkan masing-masing anak ke tempatnya, memastikan pintu telah terkunci, paket kiriman pun siap diantar ke kantor pos.  Repot juga yak? Tapi saya mencintai pekerjaan ini, maka perjalanan ke kantor pos menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi saya dan anak-anak seperti menantikan kereta Eizan yang bergambar wajah Thomas and friends melintas, menyaksikan burung gagak besar yang hinggap di atap apato, menerawang ornamen natal yang unyu-unyu dari jendela kaca bengkel mobil,  dan singgah membeli selusin donat untuk dimakan bersama saat kelelahan setibanya di apato :)  

Terimakasih atas apresiasinya

destination: USA

destination: Flores-NTT


Nov 30, 2013

Hana Wa Saku*

Memasuki tahun kedua menjadi 'alien' di negeri Totto-chan, ada sebuah lagu yang berhasil mencuri perhatianku setiap kali nongkrong di channel NHK dan NHKE (NHK Education).  Lagu ini kerap diputar saat peralihan program acara atau sebagai lagu penutup di akhir siaran.  Sebagian besar kalimat dalam lirik lagunya belum saya mengerti, namun kata 'hana' (artinya 'bunga') begitu mendominasi lagu ini.  Berbekal secuil kata 'hana' ini saya mencoba googling dengan kata kunci 'theme song NHK'.  Begitu di list ada yang mengandung kata 'hana', maka terbayarlah sudah rasa penasaran perihal lagu indah tersebut.

Hana Wa Saku* (*Flower Will Bloom) merupakan lagu produksi NHK yang menjadi theme song untuk aksi kemanusiaan dalam rangka recovery pasca gempa dan tsunami pada Jumat, 11 Maret 2011 (lebih dikenal dengan istilah 3.11 disaster).  Mimpi buruk terkelam dan kesedihan terberat berubah menjadi senandung lagu yang begitu magis ditangan Iwai Shunji (sang penulis lirik) dan Kanno Yoko (sang komposer).  Tentunya ini merupakan pekerjaan yang sangat berat bagi mereka, mengingat keduanya berasal dari wilayah Miyagi daerah yang paling keras terhantam gempa (selain Iwate dan  Fukushima Perfektur).

Video klip lagu Hana Wa Saku memiliki beragam versi mulai dari yang realis hingga anime, seluruhnya menampilkan wujud 'bunga' sebagai benang merahnya.  Klip yang saya saksikan di minggu pertama touch down Kyoto adalah klip yang menampilkan beragam artis bernyanyi sambil menggenggam sekuntum bunga (jenis Gerber Daisy).  Klipnya sederhana saja, namun ekspresi  mereka sangat menjiwai lagu tersebut berhasil membuat lagu ini terngiang-ngiang terus dalam hati (selanjutnya akan bersanding dengan Kokoro No Tomo, lagu Jepang favorit saya hingga saat ini).  




Pada akhirnya saya mengetahui bahwa mereka yang tampil pada klip lagu tersebut merupakan tv personalities Jepang mulai dari kalangan seniman hingga atlet yang berasal dari ketiga daerah paling parah dilanda Higashi Nihon Daishinsai (Great Eastern Japan Earthquake)Tidak heran bila ekspresi mereka begitu membekas di hati.  Bunga Daisy sendiri merupakan simbol kesucian dan harapan.

Belakangan muncul klip terbaru dengan format anime yang lebih menyentuh, sayangnya saya tidak berhasil menemukannya di Youtube :(  Klip garapan Sunao Katabuchi dan diproduseri oleh Masao Maruyama tersebut menceritakan tentang kerinduan seorang gadis kecil pada sang ayah yang tidak kunjung kembali setelah memberikan sebuah jepitan rambut berbentuk bunga.  Seluruh tokoh manga dalam klip tersebut sepenuhnya hasil adaptasi dari karakter manga garapan Fumiyo Kono (Town of Evening Calm, Country of Cherry Blossom). 

Meskipun hanya berdurasi 5 menit, namun menyaksikan klip anime ini dengan latar lagu Hana Wa Saku berhasil membuat air mata saya mengalir sampai jauh :')


source: http://www.animenewsnetwork.com/news/2013-03-19/black-lagoon-katabuchi-directs-video-of-yoko-kanno-quake-relief-song

Nov 10, 2013

Sketch Equipments (oleh: Dhar Chedarr)

{Holla!  Kali ini sharing tentang perlengkapan buat outdoor sketching oleh Bang Chedarr, salah satu pencetus berdirinya komunitas Indonesia's Sketchers.  Bisa dibilang beliau adalah Bapaknya Indonesia's Sketchers.  Beliau seorang ilustrator yang menjadi salah satu blog-correspondent perwakilan wilayah Asia di Urban Sketchers .}

source:  http://cedharrsketchbook.blogspot.jp/2009/07/0035-sketch-equipments.html


 Ini adalah sketch tools yang menjadi favorit saya, khusus untuk area kecil/A6-A5.

A. Pigma Micropen; paling favorit ukuran 0.05. drawing pen jenis ini memiliki garis yg akurat, tajam dan tidak luntur. cocok untuk teknik line and wash.

B. Snowman Drawing Pen; disamping untuk skets saya sering menggunakannya untuk line art ilustrasi. cukup tajam dan water proof.

C. Fountain Pen; memiliki karakter goresan yang tajam dan ekspresif. untuk ukuran standard/fine cocok untuk skets. sayang tinta yang beredar di pasaran kebanyakan tidak water proof sehingga untuk teknik line and wash tidak cocok. Platinum Carbon Ink adalah salah satu tinta khusus untuk isi fountain pen yang tidak luntur. untuk mendapatkannya harus titip teman yg kebetulan ke luar negri atau beli via internet.

D. Kenko Hi-Tech-H #0.28; ballpoint jenis gel pen ini mempunyai ujung goresan yang tajam dan keras. cocok untuk stroke yang kasar. ballpoint ini mulai susah ditemukan di stationary. jenis lain yang mirip adalah Pilot Hi-Tec-c (sekilas mirip, siapa meniru siapa nih...).

E. Pensil B atau 2B.

F. Water Brush; produk Sakura ini sangat efektif untuk dibawa saat kita berpergian, karena di dalamnya terdapat water tank yang siap pakai dan cocok berpasangan dengan cat air jenis cake (half pans).

G. Folded Brush; kuas dengan penutup ini melindungi dan menjaga bulu-bulu kuas dari berbagai kemungkinan kerusakan akibat tertekan atau terantuk benda lain. Sayang kuas jenis ini tidak dijual secara bebas melainkan menjadi satu paket dengan cat airnya (saya belum pernah menemukan di art shop).

H. Flat Brush; berguna untuk menyapu bidang yang agak lebar dan cocok untuk memblending dua bidang warna.

{info tambahan dari hasil tanya-jawab di blog beliau}  marker model Drawing pen, Pigma, Pilot, dan pulpen Kenko Hi-Tech tintanya tidak luntur. Hanya tinta untuk fountain pen yang masih luntur. Sebenarnya ada tinta khusus untuk  fountain pen yang tahan air, namanya PLATINUM CARBON INK, tapi tinta ini jarang bahkan mungkin tidak masuk di Indonesia.  Beberapa sketser di Singapore pakai fountain pen dengan  pewarnaan cat air.
 

Ballpoint jenis Pilot dan Kenko Hi Tech tidak boleh terjatuh apalagi pas  kena ujungnya, tintanya akan langsung macet. Kedua jenis pulpen ini paling cocok di kertas yang permukaannya halus, agak sensitif bila dipakai di bidang yg kasar.


Cotman Watercolor for sketcher (by Windsor&Newton) berisi 12 pans (half pans) dengan warna-warna standar. Pada seri ini, desain produknya sangat nenarik dan efektif untuk di bawa kemana saja. Dalam satu kotak kecil (kondisi tertutup; 65x125x35mm) sudah dapat mengakomodasi water supply, jar/brush washer, 1 buah folded brush dan 12 half pans. Bila ‘cake’ pans-nya sudah habis tinggal mengganti pans baru (refill).
Seri ini cocok untuk out door sketching.




Bila memungkinkan, satu buah kursi lipat kecil (banyak orang menyebutnya kursi mancing) yang mudah dibawa cukup penting untuk melengkapi kegiatan field sketch kita, karena saat kita ‘nyeket’ tidak selalu tersedia sesuatu sebagai tempat duduk. Dan yang lebih penting lagi, posisi duduk kita harus sesuai dengan angle yang kita inginkan.

{Nah, berikut adalah list toko buku dan art shop yang pernah di jajal oleh Bang Chedarr yang sepertinya 'wajib singgah' buat kita-kita yang lagi hunting peralatan sketch, khususnya sketch book.  List ini hasil tanya-jawab di blog beliau dengan beberapa sketser pemula, termasuk saya sendiri.}

1. - Toko buku Gunung Agung Jl. Kwitang, Jakarta Pusat
    - Mal Senayan City

2. - Toko Buku Gramedia, mall Pondok Indah I, Jakarta Selatan
    - Tk Bk Gramedia Matraman, Matraman Kampung melayu, Jakarta Selatan


3. Arte Media, jl. arteri pondok indah.

4. Widayat Art Supplies,  Pasa Raya Blok M, lt 12 Jakarta Selatan

5. Toko Prapatan, jl Fatmawati depan Plaza Telkom Jakarta Selatan

Nov 7, 2013

Thanks to Camane Craft ^^

Sebenarnya sarung bantal buatan Camane Craft sudah jadi sejak Agustus 2013, tapi belum sempat dipakai karena ukurannya agak besar dibanding bantal kursi yang ada di rumah.  Ada cerita sedih dibalik proses pengantaran sarung bantal ini.  Sehari setelah Ekbess (juragannya Camane Craft) menghubungi akan datang mengantar, malam harinya rumah Ekbess kerampokan :(    Shock sekaligus sedih rasanya mengingat jarak rumah kami yang lumayan 'dekat' tapi tidak bisa melakukan apa-apa karena lagi berada di luar kota.  

Touch down Kyoto, akhirnya sarung bantal ini  dipakai juga setelah mendapatkan bantal isian dengan ukuran yang pas.  Arigatou Gozaimasu ya kakak Ekbess.  Sarung bantalnya duluan mendarat di Jepun, moga-moga kakak Ekbess bisa menyusul ya, amien! :))

Nov 6, 2013

Pengumuman Pemenang Giveaway 'Seratus Persen Dianggap Buku Puisi'

Minna san, Konnichiwa!

Dua buah buku antologi "Seratus Persen Dianggap Buku Puisi" ini masing-masing menjadi milik Vindy Putri dan Iin.  Selamat buat para pemenang!  Email alamat rumah kalian ke perduliart@gmail.com yah..

Buat yang belum berhasil, jangan berkecil hati.  Masih ada giveaway yang lebih seru di postingan mendatang (*clue-nya: sesuatu yang khas Jepang deh pokoknya) jadi..tongkrongin terus yah ^^

Mata ne!


Nov 3, 2013

Sepatu Ninja Bercorak + SouSou = Katsugi Wakisaka

21 September 2013, ini kali kedua bagi saya untuk terbang menuju negeri Totto-chan.  Ada yang sedikit berbeda saat akan ckeck-in di ruang keberangkatan Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali.  Antrian menuju Osaka cukup panjang dan lama, tapi tidak begitu terasa karena ada sesuatu yang menarik perhatianku: sepatu ninja!  Pasangan muda asal Jepang yang antri di depan kami menggunakan sepatu ninja bercorak cerah ceria, sangat kontemporer pokoknya.  

Jika peribahasa mengatakan "dari mata turun ke hati", maka dalam hal ini berlaku "dari kaki naik ke hati".  Sejak pertama kali melihat sepatu ninja mereka, saya langsung jatuh cinta dengan benda itu.  Untung juga antrian  kala itu lumayan panjang, jadi saya bisa berlama-lama mengamati, mengagumi dan mengambil beberapa gambar dengan kamera saku, sembari mencari alasan yang tepat untuk bisa ngobrol dengan mereka.  

Meminta bantuan salah satunya untuk memotret kami sekeluarga menjadi ide yang paling brilliant kala itu.  Sesi foto-foto pun usai, dan mengalirlah pujian dari kami untuk sepatu ninja yang mereka gunakan.  Berhubung English mereka terbata-bata pun bahasa Jepang kami yang pas-pasan, akhirnya jawaban kunci ini saja yang cukup memenuhi rasa penasaranku:  "yes, this made in Kyoto.  You can buy at Soso (*kedengarannya seperti itu).  My friend work at there," jawab si gadis Jepang sementara pasangannya memberikan kartu namanya padaku.  Obrolan kami pun berakhir dengan foto bareng.

SOU · SOU - begitulah yang tercetak di kartu nama, lengkap dengan alamat web site.  Saat itu juga saya sudah bisa membayangkan apa yang akan saya kenakan saat turun dari pesawat kelak kembali ke tanah air:  sepatu ninja SouSou!  Ya, sesederhana itu saja :))





Istilah Jepang untuk sepatu ninja tadi adalah 'jika-tabi' (tabi shoes).  Bentuk sepatu dengan bagian jempol terpisah selain berguna untuk menjaga keseimbangan juga membuat pemakainya dapat merasakan dengan baik permukaan tempatnya berpijak. Sehingga tidak heran bila tabi shoes begitu populer dikalangan para pekerja lapangan (outdoor) seperti tukang kebun, penarik becak tradisional, dan pekerja bangunan.  Semakin lama, peminat tabi shoes semakin meluas hingga ke kalangan seniman (taiko drumming, odori dance) dan atlet beladiri tradional.  Saat ini 97% tabi shoes pabrikan yang beredar di pasaran adalah buatan Cina. Namun, SOU · SOU adalah satu-satunya pusat kerajinan tabi shoes di Jepang yang dibuat secara handmade oleh para artisan terbaik di bidangnya.  Itulah sebabnya memakai sepatu ninja SOU · SOU merupakan sebuah prestise tersendiri dikalangan fahionista. 

http://www.sousouus.com/product-category/tabi-shoes/split-toes-tabi-shoes/

Adalah Katsugi Wakisaka, seorang textile designer yang berada dibalik corak cerah ceria-nya berbagai sepatu ninja tadi.  Lahir di Kyoto pada 1944 dan menamatkan pendidikannya di Kyoto School of Art & Design.  Di usia 24 tahun beliau hijrah ke Finlandia dan menjadi textile designer pertama asal Jepang yang bekerja di Marimekko, sebuah perusahaan textil ternama di sana.  Karyanya yang booming di tahun 1970-an adalah 'Bo Boo' berupa motif kendaraan berwarna-warni, menjadi koleksi kebanggaan Marimekko yang begitu diminati oleh kalangan anak-anak di banyak negara bahkan hingga saat iniTahun 1986 Wakisaka memutuskan untuk pulang kampung, dan menetap di Kyoto seraya merintis  berdirinya SOU · SOU bersama  kedua rekannya: Hisanobu Tsujimura (arsitek) dan Takeshi Wakabayashi (produser dan perancang busana).  

Cikal bakal ilustrasi yang digunakan dalam produk SOU · SOU yang sangat eye catching berasal dari kartu pos yang dikirim buat istrinya semenjak Wakisaka menetap di Finlandia.  Permainan warna-warna terang dan karakter yang simple memang merupakan ciri khas ilustrasi Wakisaka.  Terinspirasi dari panorama alam sekitarnya yang kemudian dilukiskan ke lembaran kartu pos kosong berupa pola-pola tradional khas Jepang.  Ritual ini tetap dilakoninya dan sampai sekarang kartu pos hasil karyanya mencapai 10.000 lebih, seluruhnya tentu saja didedikasikan semata-mata untuk sang istri tercinta :') 

souce: http://www.sousouus.com/about/about-the-textile-design/
source: http://sousousf.blogspot.jp/2010/12/visiting-katsuji-wakisaka-studio.html
source:  http://www.flickr.com/photos/bronhoffer/2598832656/in/photostream/

"Bo Boo"

karya teranyar Wakisaka

source:  http://www.flickriver.com/photos/43535523@N05/
source:  http://www.flickriver.com/photos/43535523@N05/
source:  http://www.flickriver.com/photos/43535523@N05/

SOU · SOU sendiri merupakan brand ternama dari Kyoto dengan konsep design modern berbasis tradisi asli Jepang. SOU · SOU (baca: SOSO, disambung tanpa spasi) jika diartikan adalah 'ya-ya' diambil dari kata yang sering terdapat dalam percakapan sehari-hari di kalangan masyarakat Jepang terkini, yah semacam bahasa gaul lah.  Saya sering melihat penggunaan kata ini pada mereka yang jika memahami atau mengerti pembicaraan lawan bicaranya, mereka akan berkata 'soso' sambil mengangguk-angguk mengerti 

Launching di tahun 2003 dengan me-release 2300 pasang jika-tabi sebagai produk perdananya. Hingga kini, SOU · SOU berkolaborasi dengan beberapa brand internasional seperti le Coq Sportif, Wacoal, Lumix dan iPhone.  Produknya pun semakin beragam, antara lain: 
  • Kikoromo (pakaian wanita yang terinspirasi dari Kimono)
  • Kei-i (pakaian pria yang terinspirasi dari pemain teater Kabuki)
  • Warabe-gi (pakaian anak yang terinspirasi dari imajinasi anak yang ceria)
  • Shitsurai (kain dan peralatan rumah tangga)
  • Hotei (tas dan dompet)
Kembali ke topik sepatu ninja bercorak, jika untuk mendapatkan sepatu ninja buatan SOU · SOU saya harus merogoh kocek hingga 8.190 yen (sekitar Rp 800.000 lebih *benar-benar harus menabung nih!), maka hari ini saya merasa beruntung bisa mendapatkan merchandise 'gratisan' dari majalah SOU · SOU (edisi ultah yang ke-10).  Cukup dengan membayar 1.650 yen, majalah edisi khusus plus bonus sling bag berbahan canvas sudah bisa dibawa pulang.  Lumayan lah...itung-itung koleksi  SOU · SOU pertama saya.  Moga-moga jika-tabi nya juga kesampaian jadi koleksi  SOU · SOU saya berikutnya :))




Oct 30, 2013

Membuat Sketsa di Jalanan dan Permasalahannya (oleh: Antownholic)

{Holla...yang dimaksud Bung Antown adalah outdoor sketching.  Berikut tulisan Bung Antown, teman sesama sketser di IS yang membagi pengalamannya dan beberapa tips jika akan melakukan sketch on location.  Bung Antown sendiri adalah seorang vector artist, pixel art chara designer dan blogger}


Saat kita hendak membuat sketsa langsung di lokasi tentunya akan dihadapkan beberapa permasalahan. Apa sajakah masalah itu? Pada tulisan kali ini akan saya berikan solusiya.

(1) Objek manusia sering bergerak
Dalam hitungan detik kadang objek yang kita bidik sudah hilang. Di sinilah pentingnya kita melakukan observasi sebelum memulai. Jika observasi telah dilakukan dan dianggap cukup maka tangkaplah gesture, ekspresi dan suasana secara umum yang ada di lokasi dan tuangkanlah dalam kertas yang telah disiapkan.

(2) Cuaca yang tidak bersahabat
Terik matahari atau cuaca yang tak pasti datang tak disangka. Ada baiknya kita menyiapkan peralatan guna mengantisipasinya. Bawalah selalu kacamata hitam jika jalanan sangat panas dan gunakan jaket jika udara sangat dingin, serta payung dan kantong plastik untuk melindungi kertas gambar dan HP kita dari hujan. 
{Ow ya sedikit tambahan penting dari saya, jika sketsa dilakukan siang hari sebisa mungkin menggunakan pakaian dengan bahan yang menyerap keringat, dan hindari menggunakan pakaian warna gelap sebab akan menyerap panas matahari yang bisa membuat  kalian gerah berkeringat, percayalah...*wink}

(3) Pertanyaan dan atau komentar dari orang sekitar
Orang awam biasanya suka bertanya, entah soal kepentingan kita ataupun soal pemilihan warna. Pertanyaan yang terkadang tidak penting itu kadang bisa mengganggu keasyikan kita. Maka dari itu ajaklah mereka untuk bertukar pikiran atau diskusi ringan. Setidaknya dengan begitu kita bisa mengenal dan kitapun akan dikenal. Bawa selalu kartu nama kita, siapa tahu suatu saat nanti mereka membutuhkan jasa kita.

(4) Alat gambar bermasalah
Terkadang alat gambar yang sudah kita anggap bagus tiba-tiba macet. Pena tidak lagi berfungsi, pensil terjatuh dan hilang entah dimana. Supaya kita tetap bisa berkarya maka bawalah alat gambar lebih sebagai cadangan ketika sangat dibutuhkan.

(5) Lapar dan Haus
Saat berada di lapangan tentu tingkat kenyamanan berkurang. Beda halnya dengan di dalam ruangan. Untuk menghindari dehidrasi atau kelaparan jangan lupa bawa air minum secukupnya serta snack atau makanan kesukaan kita. Kalau makanannya masih lebih tentu bisa dibagi ke teman sebelah.

(6) Tidak ada tempat untuk duduk
Kalau kebanyakan berdiri membuat kita letih. Solusinya adalah bawa sendiri kursi lipat yang bisa dijinjing kemana-mana. Bahannya dari besi. Dijual di pasaran mulai dari Rp35.000. Kalaupun mau duduk langsung di atas tanah juga tidak masalah, asal kita nyaman dan menikmatinya.

Salam kreatif!!

Oct 28, 2013

Keanekaragaman Ungkapan Karya Sketsa Para Anggota Komunitas Indonesia’s Sketchers (oleh: Aryo Sunaryo)

{Buat teman-teman yang tertarik dengan dunia sketsa, khususnya 'live sketching' atau "sketch on location', tulisan karya Pak Aryo Sunaryo wajib baca lho...}

(source:http://aryofineart.blogspot.jp/2012/11/keanekaragaman-ungkapan-karya-sketsa.html)

          Komunitas Indonesia’s Sketchers, Visi dan Manifestonya
Indonesia’s Sketchsers yang disingkat IS merupakan sebuah grup terbuka pada jejaring sosial Faceobook dengan situs http://www.facebook.com/ groups/240007800116/?ref=ts&fref=ts. Sebagai komunitas dalam dunia maya itu, IS juga memiliki blog dengan alamat http://indonesiasketchers.blogspot. com/p/about-us.html. Sampai dengan bulan Februari 2012 tercatat lebih dari 2.900-an orang tergabung dalam kelompok ini. Sekarang ini (September 2012) anggotanya hampir mencapai 5.000 orang. Sebagian besar anggota IS boleh dikatakan merupakan anggota pasif, dalam pengertian lebih berperan sebagai pengamat atau apresian terhadap karya-karya sketsa yang di-posting dalam grupnya daripada banyak menghasilkan karya sketsa untuk diunggah dalam wall  FB IS. Mereka yang rajin mengirim karya-karya sketsa sekitar 20 persennya. Meskipun demikian, kita dapat melihat karya-karya sketsa hasil posting-an yang terdokumentasikan di album, wall, dan file, hingga ribuan banyaknya.

Indonesia’s Sketchers (IS) digagas pada bulan Agustus 2009 oleh Atit Dwi Indarty. Ide ini muncul ketika ia mengikuti perkembangan sebuah kelompok sketser internasional yang tergabung dalam Urban Sketchers, yang pada saat itu belum ada wakil sketser dari Indonesia yang dapat memberikan gambaran tentang Indonesia melalui sketsa. Ide ini juga timbul atas dasar keinginan untuk belajar bersama dalam sebuah grup. Tidak lama setelah IS digagas, Atit bertemu dengan seorang sketser asal Indonesia di Urban Sketchers, yakni Dhar Cedhar, yang juga memiliki visi dan misi yang sama. Mereka ingin menggalakkan seni sketsa di Indonesia, khususnya sketsa yang dibuat langsung di depan obyek sebagai karya yang dapat berdiri sendiri dan memberikan kontribusi bagi Indonesia melalui karya tersebut.

Komunitas IS memiliki sistim kepengurusan yang terdiri atas pengurus inti dan pengurus kondisional. Pengurus inti adalah pengurus yang dipilih setiap dua tahun sekali untuk mengatur jalannya IS, sedangkan pengurus kondisional ditentukan untuk mendukung program-program tertentu yang sifatnya lebih sementara, misalnya dalam kegiatan pameran, workshop, dan lain-lain. Calon-calon pengurus adalah anggota-anggota yang aktif, atau yang mengajukan diri dan yang bersedia menjadi pengurus.

Dalam perjalanannya, setelah melalui berbagai posting karya para anggotanya, gathering dan sharing yang dilakukan oleh beberapa kelompok, interaksi dan diskusi secara on-line, IS kemudian menetapkan tujuan yang tertuang dalam rumusan visinya, serta “aturan main” atau mekanisme berkarya sketsa, semacam pandangan kelompok yang mengarahkan tujuan kelompok dalam apa yang mereka sebut sebagai manifesto.

Visi IS adalah: Mengembangkan semangat bertutur/ bercerita tentang kondisi di sekitar kita melalui sketsa langsung di lokasi. Sementara pada manifesto IS, dinyatakan dalam enam pernyataan sebagai berikut:

  1. Mensketsa apa yang dilihat/ dialami di lokasi melalui pengamatan langsung, baik di dalam maupun di luar ruangan.
  2. Bercerita tentang lingkungan tempat tinggal dan pengamatan saat bepergian melalui sketsa.
  3. Mensketsa situasi dan kondisi apa adanya.
  4. Bebas menggunakan media, baik manual ataupun digital.
  5. IS menghargai gaya setiap individu.
  6. Memberikan keterangan singkat situasi, kondisi, tempat, waktu dan teknis atas sketsa yang dibuat. Selanjutnya, pada bagian akhir manifesto ditambahkan catatan. Bila ada anggota yang memposting karya tidak sesuai dengan manifesto di atas, admin akan mengembalikan postingan anggota dan menghapusnya.

Dengan mengusung semboyan/ tagline: “We Draw What We Witness”, IS menekankan pada sketsa sebagai benar-benar hasil “tangkapan” langsung apa yang dilihat, bukan “imajinasi murni” ataupun photo re-work, demikian ungkapan seorang pengurus inti dalam mengingatkan para anggotanya. Meskipun demikian, karena latar belakang yang sangat beragam dari para anggotanya, tetap saja kerap kali terjadi perbedaan pandangan untuk menafsirkannya, termasuk pemahaman anggota terhadap karya sketsa. Di lain pihak, IS sangat membuka berbagai kemungkinan bentuk ungkapan karya sketsa, tidak juga menganut pada pengertian di kamus atau definisi sketsa manapun, melainkan yang penting berkarya, berproses, dan sketsa dilakukan on lacation atau live sketching.

Dalam hal peningkatan kualitas, terdapat saran yang menarik dari anggotanya, yakni IS harus ketat dengan Visi dan Manifestonya, terutama yang bertalian dengan isi dan konteks berkarya, sehingga bukan hanya persoalan teknik dan subyektivitas sketser yang muncul. Sesuai dengan manifestonya, IS hendaknya merupakan ajang saling bertukar ceritera melalui sketsa. Di lain pihak, ada yang menyarankan agar lebih terbuka, karya sketsa tidak semata sebagai jurnalisme visual sebagaimana pada Urban Sketchers, melainkan lebih dari itu, di samping pengubahan nama komunitasnya menjadi Komunitas Sketsa Langsung jika memang cara menghasilkan sketsa semacam itu.
Tema dan Obyek Karya
Dari segi tema, karya-karya sketsa para anggota IS dapat dikelompokkan menjadi 
(1) bangunan, 
(2) ruang publik, dan ruang privasi, 
(3) landscape perkotaan maupun pedesaan, 
(4) manusia dan aktivitasnya, 
(5) pasar dan pedagang, 
(6) kendaraan dan transportasi, 
(7) kesenian/ budaya, 
(8) binatang, 
(9) tumbuh-tumbuhan, 
(10) benda-benda dan produk makanan. 
Dari setiap tema dapat dirinci ke dalam obyek-obyek yang menjadi sasaran perhatian para sketser untuk diwujudkan menjadi karya sketsa. Sejumlah kecil obyek yang digambar ada yang sangat spesifik, sehingga sulit untuk diklasifikasikan ke dalam tema-tema tersebut. Misalnya obyek gardu listrik, tiang listrik di tepi jalan, alat-alat berat semacam bego, pesawat tempur, dan persimpangan rel kereta api.
Dalam tema bangunan, obyek-obyek yang menarik perhatian para sketser yang tergabung dalam komunitas IS mencakupi bangunan tua, misalnya bangunan keraton, candi, masjid tua, gereja, klenteng, pura, gerbang, benteng, dan sebagainya, serta bangunan-bangunan baru atau modern yang umumnya terdapat di perkotaan, misalnya gedung bertingkat, hotel, pertokoan, bangunan rumah di tepi jalan raya, dan semacamnya. Karya sketsa dengan tema bangunan paling digemari, karena itu paling banyak jumlahnya (21,4%) dibanding tema lainnya. Hal ini terkait pula dengan kecenderungan Urban Sketchers yang menjadi inspiratornya.
Selanjutnya, ke dalam tema ruang publik misalnya sketsa yang mengambil obyek taman, tempat-tempat rekreasi, alun-alun, kemudian stasiun, bandara, terminal, pelabuhan, tempat-tempat bersantai dan makan minum yakni resto, cafe, coffeeshop, rumah makan, warung makan, dan lain-lain. Suasana interior baik untuk umum maupun yang lebih bersifat privasi misalnya ruang kerja berikut perabotnya, kemudian eksterior semisal sebuah teras, halaman rumah dimasukkan ke dalam bagian tema ini, sebesar 13,6%.
Sketsa dengan tema landscape sebesar 9,5%, para sketsernya mengambil obyek-obyek scene perkotaan, perkampungan, maupun pedesaan, serta obyek-obyek panoramik lainnya seperti gunung, sawah, dan dangau. Tema manusia dalam berbagai aktivitasnya merupakan tema yang juga banyak dipilih setelah tema bangunan, sebesar  18,7%. Yang menjadi obyek mulai dari potret seseorang, sosok utuh dalam sikap berdiri, duduk, dan lain-lain, sampai kepada obyek-obyek anggota badan, misalnya kaki dan tangan. Lalu juga obyek sosok manusia sebagai penari, pemusik, pengamen, pemulung, pekerja bengkel, pekerja pembangunan, dalam aktivitas sehari-hari, baik dalam keadaan sendirian, dengan beberapa sosok lainnya, maupun dalam kerumunan.
  Gereja.

 Sebuah sketsa tematik Bulan Desember karya Atit Dwi Indarty sebagai satu contoh obyek bangunan tua di Jakarta

  Ruko Harapan Indah.

Sebuah sketsa minggu pagi menggunakan tinta dan cat air karya Yanuar Ichsan. 

Contoh sketsa yang mengambil obyek bangunan modern
 Tema berikutnya yang dipilih ialah tema pasar dan pedagang, yakni sebesar 7%, dengan obyek-obyek pasar tradisional, pasar burung, kios yang banyak menempati pinggir jalan, dan para pedagang asongan maupun pedagang kaki lima (PKL), misalnya penjual bakso, angkringan, penjaja makanan dan minuman, pejual sayur, dan lain-lain. Kemudian tema kendaraan dan transportasi yang juga cukup banyak peminatnya antara lain dengan obyek bemo, kereta, mobil, becak, perahu, kapal, pesawat, truk, loko, gerobak, dokar, termasuk obyek suasana di dalam angkutan, misalnya dalam bus, angkot, kereta, pesawat, dan lain-lain sebesar 7,4%.
Tema kesenian/ budaya, meskipun tidak banyak, kurang dari 3%, terdapat pada karya-karya sketsa yang mengambil obyek misalnya pertunjukan wayang kulit, ondel-ondel, ogoh-ogoh, upacara pernikahan, kirab, sekaten, gunungan, miyos gangsa, dan idul kurban. Tema binatang, seperti pengambilan obyek-obyek kucing, anjing, kerbau, ayam, kuda, kancil, kura-kura, dan ikan juga ada meskipun tidak banyak, yang hanya 2,9%. Demikian pula tema tumbuh-tumbuhan, dengan obyek pepohonan, nyiur, pohon pepaya, bambu, tanaman merambat hingga ranting, ada tidak terlalu banyak, sekitar 3,4 %. Sementara tema benda-benda dengan obyek botol, sepatu, alat tulis, kamera, kaca mata, lipstik, mouse, stappler, alat-alat pertanian, pot, tempat sampah, baju, sendok-garpu, produk makanan dan buah-buahan, dan lain-lain hampir mencapai 11%.
 Pada umumnya tema dan obyek dipilih karena alasan obyeknya memiliki bentuk menarik, unik, dan indah, sehingga merasa perlu untuk diinformasikan baik mengenai obyek itu sendiri maupun hal-hal yang bertalian di luarnya. Beberapa di antaranya mengaku karena mereka sering melihat atau memilikinya sehingga sangat mengenali obyeknya. Tetapi ada pula yang mengaitkannya dengan identitas dan sangat bertalian dengan aktivitas masyarakat sekitar, karena itu penting untuk diungkapkan dan disampaikan.
Taman Kecil Tak Terawat. Tinta dan cat air

Sebuah sketsa bertema ruang publik berupa taman

karya Antown Holic.

Coffeshop. Sebuah sketsa bertema ruang publik masyarakat urban menggunakan tinta dan pensil warna karya Donald Saluling
Media dan Teknik Bersketsa
Media yang digunakan untuk mengerjakan sketsa yang dilakukan para sketser IS bermacam-macam. Dari pengamatan terhadap 724 karya sketsa, tinta merupakan media yang paling banyak digunakan (38,5%). Termasuk media tinta ialah pemakaian drawingpen, ballpoint, spidol, marker, boxy, tinta cina dengan pena atau kuas, yang digunakan dalam penyajian hitam putih. Kemudian pemakaian media tinta yang disajikan dengan nada-nada tengah (halftones) atau nada keabu-abuan (greyscale) dengan cara pembasuhan tinta (wash) atau dengan penambahan goresan maupun dusel pensil. Penggunaan media tinta dengan halftones ini ada sekitar 5,8 %. 

Penjual Tongseng
 Sebuah sketsa bertema pedagang menggunakan tinta karya Yoso Banyudono
Teks di bagian kiri atas merupakan storytelling singkat tentang sketsa tersebut

Nonton Wayang.
 Sebuah sketsa bertema kesenian/ kebudayaan menggunakan tinta dengan  rendering arsir 
yang halus. Karya Dadang Pribadi


Berikutnya ialah penggunaan media tinta dengan cat air. Pewarnaan dengan cat air setelah sketsa dikerjakan dengan tinta, ternyata cukup digemari para sketser IS, hingga mencapai 34,3 %, baik pewarnaan secara monokromatik yang hanya menggunakan satu warna maupun polikromatik yang menggunakan banyak warna. Sejumlah di antaranya yakni sebanyak 5,1 %, sketsa dikerjakan melulu dengan cat air menggunakan kuas sehingga sangat mirip dengan pengerjaan lukisan.
Sketsa yang dikerjakan menggunakan pensil saja mencapai 12,1%. Rupanya pensil merupakan media pilihan kedua setelah tinta. Termasuk media pensil ialah berbagai jenis pensil, mencakupi pensil warna dan pensil arang (konte). Media lainnya yang lebih sedikit digunakan ialah media digital dan penggunaan media campur (mixmedia), masing-masing sekitar 2%.
Teknik penyajian karya sketsa dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni penggunaan garis murni tanpa render dan dengan rendering. Yang tanpa dirender, hanya sekitar 13,9% tersaji dalam bentuk (1) kontur, (2) gestur, dan (3) campuran. Penyajian sketsa dengan rendering banyak dilakukan, hampir mencapai 86%. Rendering sketsa menggunakan (1) arsir, baik yang rinci maupun seperlunya, (2) blok atau spot, dan (3) pewarnaan. Teknik arsir paling banyak dilakukan, mencapai 45%, kemudian dengan mewarnai mencapai 39%, selebihnya dengan teknik blok yakni dengan penambahan bidang atau bercak-bercak hitam yang kurang dari 2%. 

Bemo-bemo
 Sebuah sketsa bertema transportasi. Karya dengan goresan dan sapuan sederhana namun efektif. Media tinta dan cat air pada sketchbook. Karya Widiyatno

Kucing Sebuah sketsa bertema binatang. Media pensil. Renderingnya tidak berlebihan namun tetap dapat mensugesti bentuk obyeknya. Karya Anissa
 
          Ungkapan Bentuk dan Pesan Karya Sketsa

Mengenai pendekatan atau gaya karya sketsa, sebagian besar (67,54%) karya sketsa tergolong impresionistik dan dikerjakan dengan tidak terlalu rinci. Bentuk ungkapan impresionistik cukup menampilkan kesan-kesan obyeknya atas hasil tangkapan sesaat dari kegiatan menggambar langsung dan hal ini merupakan kecenderungan umum dalam karya sketsa. Sebesar 23,75% dikerjakan sangat rinci, presisi, dalam gaya realistik. Penyajian gaya realistik umumnya dilakukan oleh mereka yang memiliki kecermatan kuat dalam menggambar dan kebiasaan mereka dalam membuat gambar ilustrasi. Sketsa jenis demikian lebih merupakan gambar lengkap dan tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat.
 
Speda di Pohon
Sketsa bergaya realistik menggunakan tinta dengan teknik rendering yang rinci menyajikan gambar lengkap.
Karya Dhar Cedhar

Pemulung
Media pensil. Sebuah sketsa realistik yang diselesaikan 
dengan arsiran seperlunya bertema sosok manusia, 
yang menyentuh kehidupan manusia. Karya Ivanda Ramadhani

Sebagian lagi sebesar 6,76% termasuk dalam pendekatan ekspresif, dengan sentuhan emosi dan spontanitas yang kuat, sehingga terdapat distorsi bentuk. Sketsa dalam jumlah yang tidak terlalu banyak ini lebih menampilkan karakteristik sebuah sketsa dan lebih punya “greget”. Goresan spontan, dengan tarikan garis-garis lancar yang dikerjakan dalam waktu singkat, kemudian penyajian yang sederhana, esensial, dengan intensitas emosi yang menyertainya merupakan kekuatan karya sketsa tersebut. 

Taman Makam Prasasti  Sketsa ekspresif-impresionistik karya Indra Gunadharma menggunakan tinta yang dilengkapi dengan aksen blok dan goresan yang mensugesti massa bentuknya.

Tamansari Sketsa ekspresivistik karya Faisal Amir, memperlihatkan goresan spontan dan cepat, sugestif, distorsif.  Media tinta yang dipadu dengan nada tengah dan percikan


Gaya lain yang juga dalam jumlah kecil (1,65%) ialah dekoratif melalui stilisasi. Bahkan ada pula yang diabstraksikan sehingga sangat sulit dikenali kembali obyeknya dan tampilan bentuk transformatif. Dalam hal sketsa yang menjadi abstrak dan bentuk yang transformatif, tentulah kurang sejalan dengan manifesto yang diusung IS, karena karya yang demikian itu mengesampingkan segi naratifnya serta lebih merupakan hasil imajinasi daripada ungkapan apa adanya sesuai dengan hasil tangkapan mata. Bagaimanapun, gejala ini menunjukkan bahwa sketsa dapat diwujudkan dalam bentuk yang beragam, mulai dari bentuk-bentuk yang sangat mirip dengan obyeknya hingga pada bentuk-bentuk gubahan yang jauh dari reperesentasi obyeknya.
Ibu dan Anak
 Sketsa karya lama Junita Bahari Nonci yang mengabstraksikan bentuk dan di-posting di wall Indonesia’s Sketchers.
Tidak semua sketser mempunyai pesan di balik pemilihan obyek karyanya. Tetapi sejumlah di antaranya, dapat diketahui bahwa melalui karya-karya sketsa yang dihasilkan, pesan-pesan yang ingin disampaikan para sketser ialah (1) penyampaian infomasi dan komunikasi, (2) ungkapan keanekaragaman, (3) cinta dan perhatian, (4) potret dan kritik sosial, dan (5) berbicara tentang kemanusiaan.
Pesan yang terkait dengan penyampaian informasi dan komunikasi lebih menggambarkan dan mempraktikkan semangat berbagi ceritera tentang apa yang terdapat dan terjadi di lingkungan sekitar para sketsernya. Pemikiran ini sangat sejalan dengan visi dan manifesto IS. Melalui karya-karya sketsa yang disuguhkan dapat diketahui oleh orang lain tentang obyek, hal atau peristiwa, kebiasaan dan tradisi masyarakat, atau apa saja yang menarik perhatian sketser untuk disampaikan.
Melalui karya sketsa pula pesan tentang adanya keanekaragaman yang terkandung di dalamnya  ingin disampaikan. Selain lebih membuka wawasan tentang berbagai obyek yang dapat direkam dalam karya sketsa dengan bermacam cara dan berdasarkan pandangan setiap sketsernya, pesan ini akan membuka kesadaran orang akan adanya keanekaragaman suatu obyek, baik yang diciptakan manusia maupun obyek-obyek ciptaan Tuhan. Pesan tentang ungkapan keanekaragaman sesungguhnya juga sejalan dengan semangat untuk bertutur dalam berkarya sketsa.
Sementara pesan tentang cinta dan perhatian, selain terkandung pengertian untuk berbagi ceritera, sebagai seorang pribadi, seorang sketser juga ingin menunjukkan bahwa ia memiliki perhatian dan perasaan terhadap suatu obyek atau hal yang berbeda dengan orang lain. Kemudian atas hasil pengamatan, pemahaman, dan sikap terhadap gejala yang terjadi di lingkungan sosial, melalui karya sketsa, seorang sketser menyampaikan pesan potret dan kritik sosial. Bagaimana sekelompok masyarakat menghargai karya budaya, menjaga dan merawat warisan budaya atau sebaliknya meninggalkan dan mencampakkannya, kegiatan dan kebiasaan suatu masyarakat dalam menyikapi lingkungan, misalnya, dapat tersajikan di balik obyek-obyek pilihan sketsernya. Potret masyarakat dengan pribadi-pribadi yang unik dalam berbagai kegiatan dan persoalan yang dihadapi untuk memperjuangkan kehidupannya masing-masing, dapat ditemukan dan diangkat menjadi tema berkarya sketsa, yang di dalamnya syarat mengandung persoalan kemanusiaan.

Simpulan dan Saran
Sebagai bagian dari gambar, sketsa merupakan karya catatan yang umumnya dibuat dalam waktu singkat dengan tujuan yang bermacam-macam. Sebagian di antaranya merupakan rekaman visual atas pengamatan langsung, menceriterakan obyek yang menarik perhatian pembuatnya, sebagian lainnya untuk sarana ungkapan pikiran dan perasaan pembuatnya, sampai kepada keinginan mengkomunikasikan gagasan serta menitipkan pesan-pesan.
Berbagai bentuk ungkapan sketsa para sketser yang tergabung dalam komunitas Indonesia’s Sketchers menunjukkan keanekaan tema dan obyek sketsa, gaya, penggunaan media dan teknik, pesan yang diinginkan, serta wawasan terhadap karya sketsa, sesuai dengan beragamnya latar belakang yang dimiliki oleh setiap anggota komunitas. Salah satu kesamaan pandang dalam berkarya sketsa ialah kehadiran sketsa yang dilandasi oleh pengamatan langsung terhadap obyeknya. Aneka bentuk ungkapan dan pesan yang terkandung dalam sketsa para anggota IS dengan latar belakang para sketser yang beragam telah menjadikan sketsa sebagai karya yang karakteristiknya mencair, meluas, dan berkembang sehingga sulit ditentukan batas-batasnya dengan karya gambar bahkan lukisan.
Mengingat bahwa komunitas IS merupakan grup terbuka, diperlukan pengelolaan dan pengorganisasian yang lebih ketat dan solid dengan melaksanakan program-program secara konkret dalam rangka meningkatkan kualitas karya-karya sketsa yang di-posting, sehingga memiliki andil yang nyata dalam percaturan di tingkat global.
Sesuai dengan nama komunitas yang langsung menunjuk pada sketser Indonesia, hendaknya lebih terbuka menampung bermacam pewacanaan sketsa, sehingga tidak harus berkiblat pada komunitas lain dengan visi dan misi yang bisa berbeda. Jejaring sosial seperti facebook merupakan salah satu media yang ampuh untuk memamerkan karya-karya sketsa dan ajang berbagi pengalaman terkait dengan berkarya sketsa, karena itu hendaknya dimanfaatkan secara optimal dan mampu menyebarluaskan karya-karya sketsa anak negeri pada tataran dunia.