Dec 2, 2014

Yang Tersisa Dari Lomba Desain #logoMKS ;)

Konnichiwa mina san,


4 November lalu seorang Lelaki Bugis mengkritisi tampilan logo city branding Makassar 2014 (bisa dibaca di sini). Hal yang senada juga dikeluhkan oleh seorang dosen Hubungan International yang akrab disapa Bang Ichaq.  Protesnya tersebut ditujukan langsung ke Pemerintah Kota Makassar (bisa dibaca di sini). Mengakomodasi kejengahan warga akan logo city branding kota Makassar yang 'fakir ide' ini, Flock pun membuka kesempatan bagi warga Makassar untuk mengajukan rancangan logo yang lebih 'bermartabat' pada lomba desain logo yang diselenggarakan secara independen.

saya kok yakin logo ini hanya dikerjakan via Microsoft Word saat terjebak macet pula :/
(source: lelakibugis.net)


Tanggal 7 November, Kak Isdah (senior saya di jurusan Hubungan Internasional Unhas) mengajak turut mendemo Pemerintah Kota Makassar atas pilihan logo city branding Makassar tersebut.  Bukan dengan tutup jalan dan bakar ban  lho yaa..(primitif banget sih!), tapi turut menyumbang saran dan ide melalui submit rancangan logo pada lomba #logoMKS.  Kira-kira seperti itulah wujud demo yang cerdas dan mutakhir :)

Malam itu juga, kita berdua chat (baca: bertukar pikiran) tentang apa sebenarnya yang menjadi ciri khas kota Makassar, dan tagline apa yang pas dengan  hal itu. Kita berdua sepakat mengangkat tema kuliner sebagai ide dasar.  Karena waktu yang tersisa cuma dua hari, maka malam itu kita target menyelesaikan tagline.  Ide pun mulai bermunculan...


  • Tasty Makassar
  • Makassar: the place to go
  • Heavenly Makassar
  • Makassar Enyak
  • Exploring the taste of Makassar
  • Makassar: delicious city
  • From food to heart (*semakin larut semakin lebay lah hasil chat kita)
  • Makassar Yummy (*sok cute)
  • Makassar: Tummy satisfactory (*mulai gila)
  • Makassar: Food for good
  • Makassar: Food factory
  • Makassar: Homeland of yummy food
  • Makassar: Home of heart culinary

...sampai tiba pada satu titik 'buntu ide': beginilah yang dialami desainer logo sebelumnya, karena pusing jadi dia ambil jalan pintas (bunuh diri) dengan cara membuat logo I MKS itu -_-!

Lanjut lagiii.....

  • Makasaar Untuk Dunia
  • Makassar Untuk Dunia & Akhirat
  • Diamond from east.... (*matemi ja)
  • Remembering Makassar
  • Enchanted Makassar (*berubah jadi ibu peri)
  • Culinary Makassar
  • Makassar Food Processor (*mulai berbusa-busa)
  • Finding the taste of Makassar
  • Makassar 100% halal
  • Makkassar : home of food
  • Makassar 100%enak
  • The city of yummy food (*bisa ajak chef Farah Quinn jadi ambassadornya)
  • Makassar Enak
  • Makassar Sedap (?)
  • Makassar Goyang Lidah
  • Nyamanna Makassar
kemudian ide mulai mengerucut ...
  • Taste of Makassar 
  • Heavenly Makassar
  • Nyamanna Makassar
bonus (versi okkots):
  • Makassar: perut kenyam, hati senam (*tahan pipis karena ngakak)

Lewat dini hari akhirnya kami bersepakat menggunakan tagline "NYAMANNA MAKASSAR'.  Sebagai lulusan Hubungan Internasional, kata bijak yang paling membekas saat duduk di bangku perkuliahan dulu adalah 'Think Globally, Act Locally.' Atas dasar ini, kita ingin mengangkat budaya lokal Makassar  dengan cara mempopulerkan kata 'NYAMANNA' ke kancah internasional.  Selanjutnya tagline 'NYAMANNA MAKASSAR' diikuti keterangan tambahan 'CITY OF UNFORGETTABLE TASTE'.

Tanggal 8 November pagi-siang-sore-malam, giliran menggarap ilustrasinya.  Saya termasuk gaptek, jadi ilustrasinya dibuat secara manual saja.  Sketsa pensil dan pewarnaan menggunakan cat air.  Menyentuh teknologi hanya pada saat men-scan gambar dan mengeditnya di program photoshop, itu pun sebatas cropping, mengatur saturasi warna, menggabungkan beberapa gambar dan menambahkan font pendukung :)



Ditengah deadline list matryoshka plus mengurus empat orang anak (tiga diantaranya masih batita), sementara Kak Isdah yang seorang 'working mom' juga dituntut mengasuh kedua putrinya sendiri tanpa bantuan nanny, pun harus menunaikan tugasnya sebagai dosen pengajar di jurusan Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, bukanlah perkara yang mudah bagi kami berdua menyelesaikan proyek #logoMKS dengan masa tenggat hanya dua hari saja.  Tapi 'demo cerdas' ini membuat kami rela menyisihkan waktu demi harga diri kota Makassar di mata dunia *uhuk


Dan inilah desain #logoMKS hasil kolaborasi DuoMamaks: 

Nyamanna Makassar
City of Unforgettable taste
By:
Shanti Yani Natsir (ilustrasi)
Nur Isdah Idris (narasi)

Apa yang menjadi daya tarik daerah untuk dikunjungi?  Menurut Forbes Traveller ada empat kategori wisata yang menjadi top rank of tourist attraction. Landmark yang menjadi icon sebuah kota, Fasilitas Rekreasi yang dibangun di kota tersebut, Museum yang meninggalkan sejarah berabad-abad sebelumnya dan terakhir adalah Nature atau alam yang dimiliki daerah tersebut.

Ketika memikirkan tentang Makassar tidak ada satupun dari keempat kategori ini yang bisa mewakili Makassar.  Walaupun Makassar dianggap memiliki keempat kategori itu namun belum terlalu outstanding di banding darah-daerah lain. Makassar memilki Mesjid Terapung sebagai Icon atau Landmark kota, tapi disbanding dengan petronas Malaysia kita kalah jauh. Makassar pun memiliki Nature yang mengagumkan seperti Bira, Bantimurung dan Malino yang butuh penataan yang maksimal. Sejarah kota ini pun tidak kalah jauh dengan sejarah kota-kota besar di Eropa, bahkan bisa disandingkan dengan Amsterdam di masa jayanya dahulu.

Namun apa yang orang akan ingat ketika kita menyebut Makassar? Tentu saja kuliner Makassar. Siapa yang tidak ingat akan rasa konro, coto Makassar, Pallubasa, belum termasuk kue-kue yang aslinya hanya ada di Makassar; Barongko, bikan dst.

Coba tanyakan kepada semua orang yang pernah menginjakkan kaki di Makassar pasti terkenang-kenang akan kuliner Makassar. Mahasiswa yang bersekolah di luar negeri pun pasti mengidam-idamkan mencicipi kembali kuliner Makassar, bahkan kadang-kadang berkumpul hanya untuk membuat makanan khas Makassar di negeri orang. Orang-orang yang pernah bekerja dan ditugaskan di Makassar, pasti tidak lupa menitip oleh–oleh makanan Makassar. Tamu yang datang baik dari seluruh Indonesia maupun tamu-tamu dari luar negeri pasti akan kita suguhi dengan wisata kuliner. Jadi apalagi icon Makassar selain Kulinernya.

Untuk itu, sebagai wujud cinta dan perhatian kami pada kota dimana kami yang telah memberikan kehidupan dan tempat tinggal yang nyaman, maka kami mempersembahkan logo Kota Makassar yang baru :


atau: 


Logo Nyamanna Makassar; City of unforgettable taste  yang dikelilingi dengan berbagai gambar makanan yang menjadi kuliner khas Makassar.  Ada pallubasa, songkolo begadang, pisang ijom jalangkote, sop sudara, Ikan Bakar, Pisang epe, Barongko, kue tori, Mie titi, katiri sala, bolu peca, sikaporo, baruasa, carabikang, Konro, sarabba, pallu mara, dst. yang tergambar dalam bentuk hati.

Nyamanna Makassar : Kata Nyamanna yang berarti nyaman mengartikan MAKASSAR sebagai Kota yang dipenuhi dengan kelezatan kuliner dengan bermacam variasi sehingga kota Makassar dikenal dengan Wisata Kulinernya. Kota Makassar pula dikenal sebagai tempat hidup yang nyaman bagi penduduknya. 'Nyamanna' juga digunakan untuk mengenalkan kata lokal Makassar untuk dunia. Sehingga suatu saat dunia akan mengenal Makassar dengan kata 'nyamanna'.

City of Unforgetable Taste diartikan sebagai kota yang tak akan pernah dilupakan karena rasa yang dihadirkan melalui perjalanan di dalam kotanya. Rasa akan kulinernya yang lezat dan khas yang tidak akan di peroleh di daerah lain. Rasa akan keramahtamahan penduduknya dan rasa yang akan menghadirkan memori untuk datang berkunjung kembali.

Gambar variasi makanan diartikan sebagai banyaknya variasi kuliner Makassar yang tersedia dan mudah ditemukan di  Makassar

Pola LOVE diartikan sebagai cinta dan kepedulian masyarakat Makassar terhadap Kota yang memberinya hidup dan kehidupan yang nyaman.

Jadi, apa yang menghalangimu ke Makassar?

Come and explore Makassar: City of Unforgettable Taste!

***

Tanggal 9 November 2014 malam secara resmi kami mendaftarkan desain hasil jerih payah kami ini pada panitia lomba #logoMKS.  Kami tidak berharap banyak, apalagi jadi pemenang.  Bisa submit tepat waktu saja rasanya legaaah banget (mirip habis brojol gitu deh).  Hingga batas pemasukan desain panitia lomba menerima 143 desain, 8 diantaranya didiskualifikasi karena tidak memenuhi syarat dan tema yang telah ditentukan. Karya kami berhasil masuk dalam 135 desain yang nantinya akan dinilai oleh 3 juri yaitu; Bang Anwar Jimpe Rachman (spesialisasi isu perkotaan), Bang Glenn Marsalim  (spesialisasi dunia branding) dan Bang Yoris Sebastian (spesialisasi industri kreatif). 

Tanggal 19 November 2014 pihak panitia menghubungi agar kami mengirimkan desain 'siap cetak' berupa file *png (cmyk) ukuran 32 x 48 cm lengkap dengan keterangan logo dan identitas diri.  File ini  untuk keperluan pameran desain #logoMKS yang sedianya akan digelar pada 29-30 November 2014 di Kedai Pojok Adhyaksa.  Batas waktu pemasukan file tanggal 25 November 2014.  Sampai pada tahapan ini kami mulai stuck.  Jujur, kami berdua rada gaptek.  Untuk mengeksekusi hal yang diminta panitia lomba kami sama sekali tidak berdaya.  Maka jurus nepotisme mau ngga mau harus dikeluarkan: saya akan minta tolong pada suami saya, Kak Isdah akan minta tolong pada sahabatnya yang bisa desain grafis.  Sambil menunggu kabar dari masing-masing pihak, kami berdua kembali ke rutinitas sehari-hari.  Saya melanjutkan melukis matryoshka pesanan dengan khidmad, Kak Isdah kembali beraktifitas di Kampus Merah.  Malah sebagai perwakilan dari HI Unhas, Kak Isdah harus rela berpisah dari kedua putri cantiknya untuk menghadiri Konvensi Nasional Ilmu Hubungan Internasional Indonesia V pada 25-28 November 2014 di Universitas Budi Luhur, Jakarta.

Tanggal 29 November 2014 sore, via inbox Kak Isdah menanyakan perihal desain 'siap cetak' apakah sudah dikirim? Whoa! ternyata selama ini kami saling berharap: saya mengira Kak Isdah akan langsung ngirim ke panitia begitu filenya jadi, begitu pula sebaliknya.  Saat mengirim pesan tadi, dia sedang menuju bandara untuk balik ke Makassar berbekal akses internet seadanya.  Buru-buru saya 'membajak' tenaga dan waktu suami agar malam itu juga menyelesaikan file yang dimaksud. Pameran masih akan berlangsung sampai tanggal 30 besok. 

Jam menunjukkan pukul 02.00 dinihari ketika file desain 'siap cetak' disubmit ke panitia lomba.  Better late than never, right? Kita berdua masih berfikir positif dan bersemangat.

Pada akhirnya akibat masalah teknis ini, desain logo hasil jerih payah kami gagal tampil di hadapan warga Makassar, pemirsah! But it's not a big deal.  Setidaknya kami berdua berupaya melakukan perubahan, bukan hanya sibuk nge-bully desain logo versi Pemkot itu tanpa ada solusi konkrit. Dan kami yakin logo rancangan kami jauh lebih oke, baik secara konsep maupun proses eksekusi dibanding logo resmi itu, yaah..meskipun lebih pas buat iklan acara kuliner sih (halo...Chef Farah Quinn!) ^^

Tanggal 30 November 2014, pihak panitia secara resmi menutup pameran desain #logoMKS, sekaligus mengumumkan para juaranya.   Berikut lima desain #logoMKS hasil pilihan dewan juri:

source: http://flockindonesia.com/pengumuman-pemenang-sayembara-logomks/
 
Pemenang 1 (sekaligus desain favorit pilihan warga) karya Ariyadi Arnas
Pemenang 2 karya M. Iqbal Gandhi
Pemenang 3 karya Wahyuddin M
Pemenang 4 karya Achmad Afandi
Pemenang 5 karya Farid Fatwa


Karya para nominator lainnya bisa dilihat di sini


Selamat buat para pemenang dan para nominator.  Karya kalian telah membuktikan bahwa anak muda Makassar mampu memberikan ide yang bernas untuk tampilan logo city branding yang oleh bapak-bapak di Pemerintah Kota hanya dipandang sebelah mata.    Kalian kreatif! Kalian hebat! Salut!

Jya, matta^^

Nov 13, 2014

#inktober

(re-post from http://mrjakeparker.com/inktober)

31 Days 31 Drawings

Every October, artists all over the world take on the InkTober drawing challenge by doing one ink drawing a day the entire month. I created InkTober in 2009 as a challenge to improve my inking skills and develop positive drawing habits. It has since grown into a worldwide endeavor with thousands of artists taking on the challenge every year.

Anyone can do InkTober, just pick up a pen and start drawing.

InkTober rules:

1) Make a drawing in ink (you can do a pencil under-drawing if you want).

2) Post it on your blog (or tumblr, instagram, twitter, facebook, flickr, Pinterest or just pin it on your wall.)

3) Hashtag it with #inktober

4) Repeat
Note: you can do it daily, or go the half-marathon route and post every other day, or just do the 5K and post once a week. What ever you decide, just be consistent with it. INKtober is about growing and improving and forming positive habits, so the more you’re consistent the better.

That's it! Now go make something beautiful.

Resources

Social Media
Check out what artists all over the world are doing for Inktober!
           

Tools

  1. Pigma Micron
    The best pen to start inking with. They have a tough felt tip that draws a firm mark and are great for understanding the basics of laying a line down.
  2. Uni Pin Pen
    An alternative to the Pigma. Tips feel a little looser.
  3. Pigma Brush Pen
    A good intro to drawing with a looser line. Tip is felt and can fray over the course of several drawings. Is recommended for larger drawings. Hard to get detailed with it.
  4. Kuretake Fudegokochi Brush Pen - Regular
    This is a molded felt tip which means it's sturdy like the Pigmas but you get a more expressive line like the brush pens. Ink is nice and dark.
  5. Pentel XFL2L Scientific Brush - Medium SizeThis pen is a great introduction to drawing with a brush tip. It's tip is composed of nylon fibers and are filled with aqueous dye-based inks and dry extremely dark. You can get the finest of lines and the thickest of strokes with this. Pentel also has these in two other sizes I believe. Plus it has ink refills.
  6. Pentel Pocket Brush Pen
    My work horse. Also a nylon brush tip, it offers a smooth and powerful line and can also give you fun expressive lines too. I've been drawing with this pen for years and it holds up to a beating, yet will still give you a fine delicate line if you need it. I highly reccommend it.
  7. Kuretake No. 13 Fountain Brush Pen
    I just got this pen and it's beautiful. The lines are rich yet sharp. It's great for details and broad strokes. The pen has a little more weight to it so you feel like you're actually holding something. The fine nylon bristles have a satisfying snap to it allowing you to intuitively move from thick to thin. I love it.
  8. Winsor & Newton Series 7 Kolinsky Sable Water Colour Brush size 1This is what brush pens wish they were. This is the gold standard, Rolls Royce of inking tools. It's the brush Bill Watterson drew Calvin and Hobbes with. No nylon, synthetics, or plastic here, just wood, metal, and hair. There's nothing quite like drawing with one. The ONLY draw back is you have to dip is in ink, which can get tedious, especially while under a deadline.


Konnichiwa mina san,

Turut bersama saya ada Yufinats, Davro dan Bang Donald yang ikut meramaikan submit #inktober di lini masa kami masing-masing.  Minggu pertama masih semangat '45. Minggu kedua mulai ngos-ngosan. Tapi kita berempat saling menguatkan dan saling menyemangati.  Minggu ketiga mulai keteteran.  Minggu keempat ada yang gugur, ada yang tancap gas kejar dead line. Dan inilah hasil perjuangan tiap hari bergelut dengan tinta diatas kertas selama sebulan penuh.  Selepas #inktober, berasa ditinggalin bulan Ramadhan gitu ... *hiks.  Insyaallah mau ikutan #inktober lagi di tahun-tahun yang akan datang

matcha (green tea) set



mochi ice cream (vanilla)

moo moo & mbeek mbeek

bunga cosmos diawal musim gugur

kesayangan

kyoto tower

bouquet from Aiko san

purnama merah (mengabadikan gerhana bulan kala itu)



kokeshi family















daimonji


sou.sou girls

sou.sou man



Sep 18, 2014

Seminar Kebudayaan Indonesia Oleh Annisa Shalihah

Konnichiwa minna san!
 
Tidak terasa weekend udah lewat lagi nih.  Sedikit cerita tentang kegiatan saat weekend kemarin yah.  Tentang kegiatan grup pengajianku yang keren.  Namanya Annisa Shalihah, merupakan grup pengajian wanita Indonesia di Kyoto. Sabtu, 13 September 2014 menggelar Seminar Kebudayaan Indonesia di Kyoto International Community House / kokoka 京都市国際交流会館。Peserta seminar dibatasi untuk 20 orang, targetnya adalah para Nihon Jin (orang Jepang), biaya registrasi 1.000 yen untuk dua sesi (sesi kedua yaitu Hijab Class, dilaksanakan minggu depannya).  Ketua panitianya adalah Mbak Ulil, sahabat dekatku di sini.  Makanya saya harus menomorsatukan event ini, padahal di hari yang sama saya juga ikutan bazaar di Kyoto Eki (stasiun Kyoto) ^^

Selain mempresentasikan kekayaan alam dan keanekaragaman budaya Indonesia, juga diadakan workshop singkat memainkan angklung, memakai baju adat dan icip-icip penganan khas berupa Tempe Mendoan dan Klepon.  Selain ibu-ibu pengajian, rekan-rekan dari Persatuan Pelajar Indonesia di Kyoto (PPI-Kyoto) juga turut membantu kelancaran event ini.  Alhamdulillah ada sumbangan souvenir berupa paket kartu pos dan handbook dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  Indonesia bekerjasama dengan Konsulat Jenderal Indonesia di Osaka.  


  
Dalam seminar ini juga dipaparkan Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam.  Sehingga penting banget memberikan pengertian kepada peserta alasan kenapa kita ngga mengkonsumsi minuman beralkohol serta makanan yang mengadung babi (fyi, disini makanan halal lebih sulit diperoleh lho!).  



Tiba giliran workshop alat musik angklung, teman-teman dari PPI Kyoto tampil  memainkan lagu lawas berjudul Furusato.  Yang terdengar di ruangan kemudian bukan hanya suara angklung tapi juga suara senandung dari para peserta seminar.  Mereka begitu bahagia mendengar lagu yang akrab dengan keseharian mereka disajikan apik menggunakan angklung, alat musik yang sama sekali asing bagi mereka. Selanjutnya masing-masing peserta diberi kesempatan untuk mencoba memainkan sendiri lagu tersebut atas arahan dari teman-teman PPI Kyoto.
source: kak wina sanusi
source: kak wina sanusi

Dalam kepanitiaan, tugas inti saya adalah membantu memakaikan baju tradisional Indonesia.  Nah sebagai orang Makassar, maka pemakaian Baju Bodo dipercayakan pada diriku :) Seminggu sebelum hari pelaksanaan, Aiko san (teman di preschool 'Takano Jidoukan') mengabarkan akan ikutan dalam seminar ini.  Maka, saat itu juga di benak saya sudah ada bayangan baju adat apa yang akan dia kenakan nanti, tentu saja Baju Bodo berwarna ungu ini ^^
Ewako Makassar!

source: Kak Wina Sanusi
source: Kak Wina Sanusi
Seminar berakhir tepat pukul 3.30 sore seperti yang telah di jadwalkan.  Wajah penuh suka cita terpancar dari para peserta saat meninggalkan ruang seminar.  Mereka pulang membawa pengalaman baru: bahwa Indonesia bukan hanya Bali semata, bahwa Indonesia letaknya bukan di Afrika, bahwa bambu pun bisa mejadi alat musik yang mengagumkan, bahwa rasa Tempe agak menyerupai daging ayam :)

Dalam perjalanan pulang saya berpapasan dengan seorang kakek yang menggelar lapak live painting nya di seberang kebun binatang.  Peralatan lukisnya sederhana saja: pensil graphite, kuas cina, dan air.  Beliau membuat lukisan wajah menggunakan pensil graphite terlebih dahulu kemudian mengoleskan  kuas basah sebagai sentuhan akhir.  Biayanya 1.000 yen per wajah orang dewasa, 400 yen untuk wajah anak-anak.  Saya bayangkan jika berada di posisi si kakek itu, pastilah akan senang sekali mendapat pelanggan mengingat tidak semua orang berminat mengeluarkan uangnya untuk 'membeli' karya pelukis jalanan.  Apa daya saya tidak memiliki waktu yang cukup luang di sore itu (padahal pengen banget dilukis).  Saya harus pulang menggantikan suami mengurus anak-anak karena dia ada agenda rapat dengan koleganya.  Saya hanya bisa berdoa dalam hati semoga si kakek mendapatkan penghasilan yang cukup dari keahlian melukisnya  :')


Setibanya di apato langsung buru-buru membuka omiyage dari Aiko san, temanku yang tadi pake Baju Bodo itu loh.  Wah, dapat bingkisan totebag, plushie, dan bros unik.  Semunya itu bikinannya sendiri. Kawaii ne!  Aiko san dan suaminya punya shop kecil-kecilan bagi produk handmade mereka.  Suaminya yang mendesain, Aiko san yang menjahit.  Seru ya! Sila kunjungi shop mereka di sini. Arigatou gozaimasu Aiko san, me likey it alot!


Oke, sekian dulu.  Terimakasih udah mampir kemari.  Tetap semangat beraktifitas.  

Matta ne...