Sep 28, 2012

Avatoon Untuk Kak Nyomnyom

Avatoon ini adalah hasil dari 'Parade Double Avatoon' yang saya dan adik saya @yufinats garap via Twitter beberapa bulan yang lalu.  Kini hardcopy plus bingkai yang minimalis ini sedang dalam perjalanan menuju Makassar, menuju kepada pemesannya: kak @nyomnyomz :)



Bagi yang berminat sila email foto kamu ke perduliart@gmail.com atau mention via Twitter ke @perduliart.  

price list:
  • Rp 80.000 untuk file JPG ukuran 600x600 pixel
  • Rp 150.000* untuk hard copy (original) ukuran postcard tanpa bingkai 
  • Rp 180.000* untuk hard copy (original) ukuran postcard lengkap dengan bingkai
  • Rp 225.000* untuk hard copy (oroginal) ukuran A4 tanpa bingkai
*sudah termasuk ongkos kirim (cap pos Kyoto) :)

Pengerjaan avatoon dilakukan secara manual (lukisan tangan menggunakan cat air) dan ditangani secara personal sesuai dengan karakter dan minat kamu.  

Tabe'

Makassar-Kyoto Project

Melanjutkan kisah avatoon Ekbess di postingan yang lalu, saat ini kami tengah menggarap proyek lintas negara: antara Makassar-Kyoto berupa pocket book.  Ekbess di bawah bendera Camane yang akan menggarap pengerjaan bukunya secara manual (a.k.a. handmade), sementara saya yang menggarap gambar untuk covernya.  Akan ada lima seri pocket book dengan gambar yang berbeda tiap serinya.  Dan hanya akan dicetak satu buku saja untuk tiap gambar sehingga kamu tidak akan mendapatkan 'kembaran' pocket book ini dimana pun.  Selain sebagai buku catatan, pocket book ini bisa juga dipakai sebagai buku sket.  Yang pasti buku ini mudah dibawa kemana-mana karena ukurannya yang compact, namanya juga pocket book jadi akan muat di saku baju kamu.  

Nantikan update selanjutnya untuk pocket book handmade kami ya :)





Sep 24, 2012

Avatoon Untuk Ekbess

Kali ini menggarap avatoon untuk Ekbess, nama dibalik Camane Craft si librarian sekaligus crafter, punya hobi travelling, kegiatan sosial dan penyuka warna biru-hitam.  Sebelum bertemu dengan orangnya, saya selalu mendengar namanya kalau sedang berkunjung di Kafe Biblioholic (saat itu masih di Jalan Perintis Kemerdekaan).  Baru bertemu muka dan berkenalan langsung saat dia gabung di Indonesia's Sketchers Makassar edisi live sketching di Pantai Biring Kassi'.  

Saat ini Perduliart dan Camane Craft sedang menyelesaikan project kolaborasi lintas negara: antara Kyoto-Makassar (biar terdengar heboh).  Nantikan update berikutnya seputar project kami ya :)


sket pensil

outline pulpen

watercoloring

Sep 10, 2012

[Ilustrasi] Ciuman yang Menyelamatkan Dari Kesedihan

Awal Agustus 2012, @katabergerak - sebuah penerbit mandiri buku himpunan puisi menghubungi saya untuk menggarap ilustrasi sampul buku antologi puisi karya Bang Agus Noor.  Buku antologi puisi ini diberi judul Ciuman yang Menyelamatkan Dari Kesedihan.  Karena tidak ada 'pesanan' dari si empunya buku tentang garis besar tampilan covernya, maka saya meminta beberapa puisi yang akan dimuat guna mencari inspirasi.  Alih-alih mengirim satu atau dua puisi, saya malah dikirimkan draft buku yang terdiri dari 59 halaman.  Ini berarti, saya adalah orang kedua (setelah penerbit) yang berkesempatan membaca antologi  puisi Bang Agus Noor yang masih berupa 'janin' :)  Disesuaikan dengan jadwal naik cetak, maka deadline untuk ilustrasi ini tanggal 12 Agustus 2012. 

Berdasarkan puisi-puisi tersebut, saya mengajukan dua sketsa yang nantinya akan dipilih langsung oleh Bang Agus.  

judul ilustrasi: Kanak-kanak Selalu Punya Impian Yang Tak Dipahami Waktu
terinspirasi dari puisi berjudul Jazirah Kenangan

judul ilustrasi: Selamat Ulang Tahun Waktu
terinspirasi dari puisi berjudul Percakapan


Setelah pengajuan dua sketsa ilustrasi ini barulah Bang Agus 'buka suara'  (selama ini baru komunikasi antar penerbit da ilustrator saja).  Bang Agus memilih gambar kedua dengan catatan:
  1. menghilangkan gambar awan dan orang-orang berpayung
  2. menghilangkan gambar tumpukan koper
  3. kalau bisa bibir orang yang mencium jam di beri warna cerah
  4. untuk warna latar pilihannya anatara putih, kuning, atau orange
  5. intinya sampul buku ini berkesan pop art 
Berdasarkan masukan tersebut, inilah beberapa alternatif ilustrasi Selamat Ulang Tahun Waktu:

 alternatif #01: jika ingin menggunakan latar putih, objeknya diwarnai cerah

alternatif #02: masih dengan latar putih tapi warna pada objek lebih dibuat lebih variatif 

 alternatif #03:  warna latarnya yang dibuat lebih variatif, objek sengaja dibiarkan putih polos dengan aksen warna merah menyala pada bibir

alternatif #04:  hanya ingin melihat bagaimana jadinya jika objeknya diwarnai juga, sepertinya tidak lebih baik 

Selanjutnya Bang Agus menjatuhkan pilihannya pada ilustrasi #01 dan #03.  Sepertinya dia masih bingung, antara memakai latar putih atau kuning untuk sampul bukunya nanti.  Saya mengamati lebih seksama lagi kedua pilihan terakhir Bang Agus.  

Sepertinya ilustrasi #01 kurang begitu bagus, alasannya: kesan ciuman oleh bibir  tidak menjadi fokus karena tenggelam oleh warna tubuh dan jam.  Lagipula, motif polkadot orange pada tubuh objek menjadikan orangnya terlihat seperti bentol-bentol :/

Atas saran saya dan Katabergerak, sebaiknya yang digunakan adalah ilustrasi #03, alasannya:  karena objeknya berwarna putih polos, jadi fokus pandangan bisa langsung tertuju pada 'ciuman' dari bibir yang merah merekah dan ini sudah sangat pas dengan judul bukunya.  

Akhirnya, disepakatilah ilustrasi #03 ini yang akan digunakan dalam sampul buku antologi puisi Ciuman Yang Menyelamatkan Dari Kesedihan...

 Seluruh proses dikerjakan secara manual
sket pensil
dilapisi masking fluid dulu 
mewarnai latarnya dengan cat air
pengelupasan masking fluid
mewarnai objek dengan cat air

Tepat tanggal 7 Agustus 2012, file high-res telah diterima oleh Katabergerak.  

lay out cover oleh @flafea
09 November 2012, acara launching diadakan di @TrystKemang Jl.Kemang Utara No.17A Jakarta Selatan, pukul 19.00.  Turut meramaikan  @djenarmaesaayu     . Karena distribusinya tidak melalui toko-toko buku, bagi yang berminat memiliki buku ini silahkan menghubungi @katabergerak.  
Akhir kata, selamat buat Bang Agus Noor untuk 'kelahiran' buku terbarunya :)  

Sep 7, 2012

Dimabok Van Gogh

sumber: vangoghgallery.com
Nama Van Gogh memang punya tempat tersendiri di hati saya.  Sebenarnya, saya sudah mengenal karya Vincent van Gogh jauh sebelum saya mengenal nama besarnya.  Bermula ketika saya masih SD.  Saat itu sedang natalan, saya bersama teman-teman mengujungi rumah Pius (teman sepermainan kami) yang hanya dua rumah disamping rumah saya.  Ketika dipersilahkan duduk oleh mamanya, mata saya langsung tertuju pada sebuah lukisan bunga matahari yang disenderkan diatas lemari hias, sementara teman-teman yang lain sibuk mengagumi dekorasi natal.  Melihat objek vas dan tepian meja yang dilukis dengan tarikan garis yang kekanak-kanakan, dalam hati saya sesumbar bisa melukis seperti itu juga.  Tanpa sadar, lukisan bunga matahari itu mendominasi pikiran saya selama perjalanan pulang, berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun.  Hingga akhirnya setelah duduk di kelas 3 SMP barulah saya tahu bahwa pelukis 'Sun Flower' itu bernama Vincent van Gogh.  Maklumlah, untuk ukuran sekolah swasta milik perusahaan tambang (yang letaknya di tengah hutan) sekitaran tahun 80-90an, perkembangan informasi mata pelajaran seni rupa kami sangat jauh tertinggal.


Balik ke masa kini.  Saat bergerilya di flea market beberapa bulan lalu, tidak disangka saya akan mendapatkan katalog pameran lukisan dan sketsa Vincent van Gogh berupa buku setebal 150 halaman.  Pameran itu sendiri diadakan di tiga kota besar di Japang:

  • (30 Oktober - 19 December 1976) The National Museum of Western Art, Tokyo
  • (6 Januari - 20 Februari 1977) The National Museum of Modern Art, Kyoto
  • (24 Februari - 14 Maret 1977) The Aichi Prefectural  Art Gallery
Lukisan dan sketsa yang dipamerkan berasal dari tahun 1882 hingga 1890.  Sayangnya, (selain kata pengantar) semua keterangan lukisan dan sketsa dibuat dalam huruf Kanji, sehingga belum ketahuan (oleh saya) bahwa sketsa yang pamerkan itu apakah sketsa asli atau monoprint-nya saja :(

Selain karena katalog vintage itu, saya juga beruntung (akhirnya) bisa memiliki cat air van Gogh.  Kenapa merasa beruntung?  karena itu adalah unit terakhir yang ada di toko art dekat Universitas Kyoto Art and Design.  Setelah hampir 4 tahun  lamanya mencoba mempelajari dan memahami sifat cat air dengan Sakura Koi watercolor, saya rasa sudah saatnya memanjakan diri dengan upgrade ke cat air yang sedikit lebih mahal.  Semoga bisa lebih produktif berkarya dengan van Gogh ini :')

Sep 5, 2012

Melukis Kailong


Namanya Mikaila Anjagi Izzati, tapi panggilan sayangku untuk dia adalah Kailong.  Dia keponakanku, anaknya Yufinats.  Dari skype-an terakhir dia terlihat sudah anadara (bahasa bugis untuk gadis), dan lancar berbicara dengan suara yang mirip sekali Suneo (temannya Nobita).  Saya pun segera melukisnya untuk mengobati rasa rindu ini :')



ini untuk Kailong yang suka sekali sama Doraemon,
sekalian  mau ngucapin Happy B'Day untuk Doraemon (tanggal 3 Sept kemarin)

Sep 3, 2012

Japanese Calligraphy Workshop



Minggu, 2 September (ceria) 2012.  Beruntung sekali bisa mengikuti Japanese Calligraphy Workshop yang diselenggarakan oleh Kyoto Fan.  Bertempat di Kyoto Design House, workshop dibuka dengan memperkenalkan sensei yang akan mengajari kita menulis huruf Kanji.  Beliau adalah Shodo Master Tsubasa Kimura.  Selanjutnya Tsubasa Sensei memparkan secara singkat apa yang dimaksud dengan Shodo, sejarah seni kaligrafi di Jepang, dan diakhiri dengan pertunjukan 'Shodo' (traditional Japanese Calligraphy) di atas 4x2 meter washi paper board.  



Berikutnya adalah acara inti: workshop menulis.  Di depan masing-masing peserta tersedia goodie bag yang berisi perlengkapan standar kaligrafi, antara lain:  kertas khusus kaligrafi, kertas buram (untuk menyerap tinta dari kertas yang telah ditulisi), kuas, tinta khusus kaligrafi, piringan tinta, matras khusus kaligrafi (menjadi alas saat menulis), dan besi pemberat kertas . Diperingatkan sebelumnya agar kita berhati-hati dengan tinta yang akan digunakan sebab tidak bisa dibersihkan/dihilangkan bila terkena baju, atau lantai.

foto reka ulang di atas meja apato
Tsubasa Sensei memperlihatkan cara memegang kuas yang benar.  Ibujari, telunjuk, dan jari tengah adalah jari-jari utama yang memegang kuas tepat diatas titik tengah kuas, dan posisi kuas harus tegak lurus diatas permukaan kertas.  
foto reka ulang di apato
tempat kuas; dengan cara digulung lalu diikat dengan benang ungu itu

Huruf Kanji pertama yang kami tulis adalah 'Ei', dari kata 'Ei en' = Forever. Terlebih dahulu Tsubasa Sensei memeragakan cara menarik garis, bagaimana memberi tekanan pada kuas sehingga menghasilkan bentuk Kanji yang proporsional diatas kertas.  Ketentuan menulis karakter Kanji adalah dari atas ke bawah, dan dari kanan ke kiri.  Kelihatannya sangat mudah untuk dilakukan. Tapi begitu kuas telah dicelupkan ke dalam tinta, pemandangan tinta yang menetes berceceran, atau tulisan yang kebanjiran tinta di atas kertas menjadi kejadian yang memalukan bagi kami :)


Berdasarkan list kakater Kanji yang telah dibagikan, kami diminta untuk berlatih menulis sendiri.  Merasakan sensasi  menulis menggunakan kuas yang berlumur tinta hitam pekat diatas kertas yang lumayan tipis.    Sementara itu Tsubasa Sensei memantau sekeliling dan akan langsung mengoreksi bila terjadi kesalahan.  Bila ingin menulis nama kita dalam karakter Kanji, beberapa panitia siap membantu mencarikan Kanjinya.  Saya kemudian menanyakan karakter Kanji untuk nama saya "Shanti" pada panitia di sebelah saya.  Dia bepikir sejenak sesekali menulis-nulis kecil di udara, lalu menulisnya di kertas, namun karena tidak yakin akhirnya dia memanggil temannya untuk menanyakan hal yang sama. Kira-kira butuh sekitar 10-15 menit  mereka berembuk berupaya  mencari karakter kanji yang sesuai.

thnx to Akiko yang telah bersusah payah mencarikan karakter kanji 'Shanti' :)

Pada sesi akhir workshop, kami diminta untuk memilih salah satu yang paling indah dari beberapa lembar hasil latihan kami untuk di pajang di dinding, dan selanjutnya Tsubasa Sensei akan memilih 3 karya terbaik.    Setelah bertimbang-timbang, akhirnya saya memilih untuk memajang tulisan nama saya, meskipun tidak ada unsur-unsur keindahan kaligrafinya sama sekali.  Pilihan terbaik pertama jatuh pada karya pemuda asal Bahrain.  Alasan Tsubasa Sensei memilih karyanya karena hasil tulisan tangannya bagus dan dikerjakan dalam waktu yang sangat singkat.  Pilihan terbaik kedua jatuh pada karya gadis Jepang, alasannya karena saat menulis karakter Kanji ‘Dream’ Tsubasa Sensei bisa merasakan harapan/impian ‘digantungkan’ pada karyanya.  Sedangkan pilihan terbaik ketiga jatuh pada karyaku. Alasan Tsubasa Sensei memilihnya karena terlihat paling kompleks (memuat 4 karakter Kanji), sehingga membutuhkan usaha yang lebih dibandingkan dengan yang lain. 

bersama Shodo Master Tsubasa Kimura


Di akhir workshop panitia menyerahkan bingkisan bagi 3 orang yang karyanya terpilih tadi, dan selanjutnya  kelas workshop berfoto bersama Tsubasa Sensei.  

kaligrafi kanji perdana dan kipas hadiah :')

Semoga ini menjadi awal yang bagus untuk melanjutkan latihan kaligrafi Kanji selanjutnya.

Sep 2, 2012

Terbang ke Negeri Totto-Chan

Buku Totto-chan pertama kali dipublikasikan pada 1981 (saat itu usia saya masih satu tahun).  30 tahun kemudian saya baru membaca buku tersebut (better late than never, right?).  Berkenalan dengan buku Totto-chan pun sebenarnya merupakan sebuah ketidaksengajaan.   Itu pun kalau tidak berencana tinggal di Jepang, saya mungkin belum membaca buku Totto-chan hingga hari ini.  

Agustus 2011, adalah Kak Ann Sjamsu yang memperkenalkan buku 'pengantar' menuju buku Totto-chan .    Sebuah buku karangan Mba Nesia Andriana Arif berjudul Dengan Pujian, Bukan Kemarahan (Rahasia Pendidikan dari Negeri Sakura).  Mengetahui saya akan membawa ketiga anak saya menetap di Negeri Sakura, menurut Kak Ann buku ini sudah pas sekali dibaca seorang ibu Indonesia yang sedang membesarkan anak usia sekolah dasar.  

buku koleksi kak Ann yang 'terpinjam' sampai ke Jepang 

Prolog dibuka dengan cerita singkat mengenai buku Totto-chan, dan bagaimana karakter si gadis kecil bernama Totto-chan serta kisah hidupnya begitu kuat mempengaruhi sudut pandang Mba Nesia.  Hingga akhirnya Mba Nesia bisa melahirkan buku berisi pelajaran kehidupan yang didapatnya dalam posisinya sebagai seorang ibu.  "Sedemikan hebatnya kah buku Totto-chan itu?" saya membatin.

September 2011, saat mengitari Gramedia Panakukkang-Makassar mata saya tertuju pada sebuah buku dengan ilustrasi sketsa sederhana seorang anak perempuan yang sedang duduk tergambar disampul putihnya (terus terang saya langsung jatuh cinta pada buku itu karena covernya). Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela, begitulah judul yang tertera di hard covernya.   Di sebelahnya terpajang buku berjudul Totto-chan's Children.       Sepertinya memang sudah ditakdirkan agar saya bertemu dengan buku ini.  Saya tidak berfikir dua kali untuk segera memboyong keduanya ke rumah :)


Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela terdiri dari 264 sub judul yang ditulis dengan gaya bertutur yang sangat ringan dan mudah dipahami.  Rupanya Mba Nesia (pada buku karyanya) juga mengikut pada gaya bertutur seperti di buku Totto-chan ini.  Kisah Totto-chan kecil dan jalinan persahabatan dengan teman-teman sekelasnya memang sangat memberi inspirasi.  Tanpa sadar, saya memulai blog ini pun karena terinspirasi dari buku Totto-chan.  Selain membaca kisahnya yang indah, hal lain yang berhasil mencuri perhatian saya adalah sisipan sketsa-sketsa  karya Chihiro Iwasaki.  "Garis Dewa" adalah istilah pribadi saya untuk sketsa dengan tarikan garis yang begitu spontan dan minimalis.  Menatap ilustrasi karya Chihiro membuat saya begitu terkagum-kagum berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan.  



akhirnya buku ini bisa merayakan musim sakura di negerinya 

Maret 2012 saya bertolak dari Makassar menuju negeri Totto-chan, menemani suami yang sekolah lagi.  Berbekal buku karya  Mba Nesia, saya siap menjalani hari-hari saya sebagai ibu dari tiga orang anak  Sedangkan buku Totto-chan akan mengawal hari-hari anak sulung saya (yang seusia denganTotto-chan) selama bersekolah di Negeri Sakura ini.  Bahwasanya sekolah adalah tempat untuk bermain dan bersenang-senang dengan seluruh teman kelas.  

'kelas gerbong kereta' di taman bermain yang hanya berjarak  500 meter dari apato kami :)



Agustus 2012, takdirlah yang mempertemukan saya dengan buku ilustrasi karya Chihiro Iwasaki di toko buku sebuah pusat perbelanjaan dekat apato kami.  Saya anggap takdir kerena buku itu tinggal satu unit  yang terpajang di rak.  Bukan main girangnya saya menemukan 'kitab suci' ini.  Kenapa girang? Karena saat ini saya sedang memperdalam kemampuan mensketsa dan menggunakan cat air.  Sedangkan buku ilustrasi Chihiro ini menyangkut keduanya.  "Sketsa + Cat Air = Chihiro Iwasaki" demikianlah rumus sepihak dari saya pribadi. 


Totto-chan lah yang memperkenalkanku pada Chihiro Iwasaki

seperti menikmati ilustrasi Totto-chan versi berwarna :)

saya membayangkan beginilah Totto-chan dan  kawan-kawannya

menyisipkan hasil gambar sendiri ke tengah-tengah halaman buku, semoga  aura-aura magic Chihiro menular ke karyaku (ah, betapa konyolnya!) 

Meskipun seluruh teks dalam buku ini menggunakan karakter kanji, hal itu saya sama sekali bukan masalah bagi saya yang belum melek huruf-huruf Jepang, bukankah ilustrasi adalah bahasa universal? Saya sangat bersyukur atas semua yang saya dapatkan hingga saat ini.  Bisa menetap negeri Totto-chan adalah hal yang sama sekali diluar dugaan saya.  Cita-cita terbesar yang belum kesampaian adalah mengunjungi museum Chihiro Iwasaki di Tokyo dan Azumino (Nagano).  Semoga bisa terlaksana, kapan pun waktunya :))