Aug 23, 2015

Finally, The Last! (sebuah review dari seorang pembela Hinata)

Minna san, konnichiwa!

Tujuh bulan setelah menghadiri pameran dalam rangka pemutaran perdana Naruto The Movie: The Last di Aeon Mall Kyoto, akhirnya kesampaian juga menonton sendiri filmnya melalui kepingn DVD (fans macam apa saya ini!).

Berikut hasil review dari saya :

Pertama: 
Naruto The Last adalah kisah cinta pertama Naruto dan Hinata.  Saya bersyukur akhirnya mereka jadian (setelah 15 tahun kami menunggu!) Saya tahu banget rasanya menjadi secret admirer seperti Hinata, apalagi orang yang kita sukai itu sosok populer lalu berakhir happy ending (dalam hal ini saya tidak seberuntung Hinata *wink.
Mengenai sosok Hinata yang dipilih sebagai pasangan Naruto sudah bisa terbaca dari serial saat Naruto bertarung melawan Pain dan Madara (para rival terberat Naruto selain Toneri).  Dalam episode tersebut,  Hinata tampil memberikan dorongan semangat dan bantuan tenaga meskipun harus bertaruh nyawa.
Kembali ke film The Last ini, kisah cinta antara Naruto yg ngga peka dan Hinata yang malu-malu kucing mendominasi alur cerita pada satu setengah jam pertama.  Rasanya mirip membaca manga  shoujo (komik khusus buat pembaca cewek).  Adegan melow dan romantis yang dibangun dalam film ini cukup merusak image serial Naruto yang penuh dengan kisah-kisah yang membakar semangat.  Sepertinya menulis detil romantis bukan keahlian Kishimoto Masashi deeh. 

Kedua:
plot yang singkat dan melompat-lompat membuat film ini agak sulit dipahami hanya dengan sekali nonton. Butuh perhatian extra untuk menyatukan puzzle potongan plot yang melompat-lompat tadi.  Misalnya pada potongan plot saat Higashi Hyuga yang berhasil meloloskan diri serangan Toneri, atau potongan plot tentang kejelasan syal hijau milik Naruto.  Keduanya contoh adegan ini tampil hanya sekilas-sekilas, dan terpaut waktu yang cukup jauh antara masing-masing plot.

Ketiga:
awalnya saya sempat mempertanyakan kemampuan ninjutsu Hinata di awal film ini.   Bagaimana bisa dia tiba-tiba 'down grade' begitu?  Tidak heran bila banyak kawan disana yang agak keliru pada reviewnya.  Banyak yang berkesimpulan bahwa Hinata menjadi lemah tidak berdaya hanya karena ingin diselamatkan oleh Naruto.  Padahal jika dicermati lebih lanjut, sebelum ia diculik, Toneri telah melumpuhkannya terlebih dahulu (jurus yang sama digunakan saat mengendalikan Hinata selama di kerajaan bulan).  Salut buat Hinata yang bisa berjuang sendiri saat jatuh dari gedung tinggi, meskipun itu hanya dengan berpegangan pada syal rajutannya. 

Keempat:
benang merah dari film ini adalah Syal Merah itu sendiri.  Bagaimana syal merah ini berperan penting saat menyatukan chemistry Naruto dan Hinata saat keduanya pingsan dalam 'genjutsu'.  Alam bawah sadar Naruto menangkap sinyal dari Hinata sedari mereka kecil dulu, dan pada akhirnya ia memahami perasaan cintanya pada Hinata.
Jalinan perasaan dan cinta kasih yang terajut dalam syal tersebut pada akhirnya menjadi lucky charm bagi Naruto saat mengeluarkan jurus pamungkasnya melawan Toneri.  
Secara tersirat film ini menunjukkan bahwa hasil karya tangan sendiri jauh lebih berharga dibanding barang pabrikan lho *wink :)  

Kelima: 
adegan ketika Naruto menyatakan cintanya tapi Hinata malah pergi bersama Toneri ke bulan, lalu membuat Naruto patah hati sampai harus mengurung diri dan menyatakan menyerah, terkesan sangat dangkal untuk seorang shinobi paling hebat calon Hokage pula! Apakah Naruto tidak tahu bahwa sekali nembak ada kemungkinan belum  diterima? Patah hati sampai kehilangan gairah hidup seperti itu wajar terjadi jika Naruto dan Hinata telah bertunangan selama bertahun-tahun. 

Keenam:
penggambaran letak bulan (yang dicapai dengan cara menyelam kedalam kolam bercahaya), dan matahari buatan, agak sulit dimengerti.  Mungkin terlalu kompleks bagi saya.  Jika teman-teman ada yang bisa menjelaskan,  saya akan menyimak dengan senang hati :)

Ketujuh:
saya benar-benar bersimpati pada para fans Sasuke (dan Gara).  Kemunculan mereka yang sekejab benar-benar membuat kita semua patah hati :(

Kedelapan:
Dari tampilannya animenya sendiri, semuanya keren! Ide Masashi Kishimoto membuat kupu-kupu bercahaya di malam Naruto menyatakan cintanya pada Hinata sungguh brilliant.  

Kesembilan: saya memberi rating 3/5 untuk alur cerita,  dan 5/5 untuk eksekusi grafisnya. 

Kesepuluh:  
Sesuai judulnya: The Last, film  ini menjadi 'penutup'  khususnya buat Zidan (anak saya) yang selama ini setia mengikuti kisah-kisah perjuangan Naruto.  Momen jadian Naruto dan Hinata menjadi momen perpisahan buat Zaidan yang usianya masih 10 tahun.  Untuk sementara kisah kedekatan Naruto dan Hinata (yang banyak dibuat oleh para fans) belum boleh Zidan baca hingga ia dewasa kelak :)

Tambahan: celana puntung model balon yang digunakan Hinata di akhir tayangan lumayan kawaii yaa ^.^

Jya, matta!

Jun 20, 2015

BERTEMU NARUTO!

Konnichiwa! 

Osashiburi ya. Hidup nomaden memang ngga enak banget, setiap mulai menetap di tempat baru mesti penyesuaian dari awal lagi dengan lingkungan dan atmosfirnya.  Apalagi kalau pindah di tempat yang jarigan internetnya selambat katatsumuri (*siput).  Buntut-buntutnya blog jadi terbengkalai (sambil bersihin sarang laba-laba dan debu).
 
Saya menjadi fans Naruto sejak masih berstatus mahasiswa di awal jaman Reformasi dulu. Waktu bergulir begitu cepat, tidak terasa nyaris 17 tahun kemudian akhirnya bisa bertemu Naruto di negeri asalnya! 

Awal tahun 2015, Saya (bersama suami dan keempat anak kami) berkesempatan menghadiri pameran karya Masashi Kishimoto, dalam rangka pemutaran perdana THE LAST-Naruto The Movie.  Pameran berlangsung sejak 26 Desember 2014 - 12 Januari 2015, di AEON Mall, Kyoto. Saya sendiri tidak menonton filmnya di bioskop dikarenakan tiketnya yang lumayan mahal (harus pergi segambreng dengan anak dan suami) dan yang pasti saya tidak akan mengerti dengan bahasanya :(

Stand pamerannya sederhana saja, berupa hall terbuka yang berisi beberapa screen print dari cuplikan film Naruto The Last, beberapa sketsa dasar karya Masashi Kishimoto dalam bentuk print diatas whiteboard, merchandise yang harganya ngga terjangkau buat kami yang hanya immigrant ini, dan photo booth.  Mungkin jika ada jumpa fans dengan Kishimoto san, ngga akan sesederhana ini :)

Jika boleh berkomentar tentang kisah cinta Naruto dan Hinata di film ini, saya termasuk yang mendukung pasangan tersebut.  Mungkin karena saya tahu banget gimana rasanya jadi secret admirer layaknya Hinata, hihi..
Bagi Naruto, sejago apapun ia bertarung di ladang peperangan, pada akhirnya seorang pahlawan butuh tempat untuk pulang dan beristirahat.  Dan Hinata adalah perhentian yang indah untuk hati seorang Naruto *imho