Nov 30, 2013

Hana Wa Saku*

Memasuki tahun kedua menjadi 'alien' di negeri Totto-chan, ada sebuah lagu yang berhasil mencuri perhatianku setiap kali nongkrong di channel NHK dan NHKE (NHK Education).  Lagu ini kerap diputar saat peralihan program acara atau sebagai lagu penutup di akhir siaran.  Sebagian besar kalimat dalam lirik lagunya belum saya mengerti, namun kata 'hana' (artinya 'bunga') begitu mendominasi lagu ini.  Berbekal secuil kata 'hana' ini saya mencoba googling dengan kata kunci 'theme song NHK'.  Begitu di list ada yang mengandung kata 'hana', maka terbayarlah sudah rasa penasaran perihal lagu indah tersebut.

Hana Wa Saku* (*Flower Will Bloom) merupakan lagu produksi NHK yang menjadi theme song untuk aksi kemanusiaan dalam rangka recovery pasca gempa dan tsunami pada Jumat, 11 Maret 2011 (lebih dikenal dengan istilah 3.11 disaster).  Mimpi buruk terkelam dan kesedihan terberat berubah menjadi senandung lagu yang begitu magis ditangan Iwai Shunji (sang penulis lirik) dan Kanno Yoko (sang komposer).  Tentunya ini merupakan pekerjaan yang sangat berat bagi mereka, mengingat keduanya berasal dari wilayah Miyagi daerah yang paling keras terhantam gempa (selain Iwate dan  Fukushima Perfektur).

Video klip lagu Hana Wa Saku memiliki beragam versi mulai dari yang realis hingga anime, seluruhnya menampilkan wujud 'bunga' sebagai benang merahnya.  Klip yang saya saksikan di minggu pertama touch down Kyoto adalah klip yang menampilkan beragam artis bernyanyi sambil menggenggam sekuntum bunga (jenis Gerber Daisy).  Klipnya sederhana saja, namun ekspresi  mereka sangat menjiwai lagu tersebut berhasil membuat lagu ini terngiang-ngiang terus dalam hati (selanjutnya akan bersanding dengan Kokoro No Tomo, lagu Jepang favorit saya hingga saat ini).  




Pada akhirnya saya mengetahui bahwa mereka yang tampil pada klip lagu tersebut merupakan tv personalities Jepang mulai dari kalangan seniman hingga atlet yang berasal dari ketiga daerah paling parah dilanda Higashi Nihon Daishinsai (Great Eastern Japan Earthquake)Tidak heran bila ekspresi mereka begitu membekas di hati.  Bunga Daisy sendiri merupakan simbol kesucian dan harapan.

Belakangan muncul klip terbaru dengan format anime yang lebih menyentuh, sayangnya saya tidak berhasil menemukannya di Youtube :(  Klip garapan Sunao Katabuchi dan diproduseri oleh Masao Maruyama tersebut menceritakan tentang kerinduan seorang gadis kecil pada sang ayah yang tidak kunjung kembali setelah memberikan sebuah jepitan rambut berbentuk bunga.  Seluruh tokoh manga dalam klip tersebut sepenuhnya hasil adaptasi dari karakter manga garapan Fumiyo Kono (Town of Evening Calm, Country of Cherry Blossom). 

Meskipun hanya berdurasi 5 menit, namun menyaksikan klip anime ini dengan latar lagu Hana Wa Saku berhasil membuat air mata saya mengalir sampai jauh :')


source: http://www.animenewsnetwork.com/news/2013-03-19/black-lagoon-katabuchi-directs-video-of-yoko-kanno-quake-relief-song

Nov 10, 2013

Sketch Equipments (oleh: Dhar Chedarr)

{Holla!  Kali ini sharing tentang perlengkapan buat outdoor sketching oleh Bang Chedarr, salah satu pencetus berdirinya komunitas Indonesia's Sketchers.  Bisa dibilang beliau adalah Bapaknya Indonesia's Sketchers.  Beliau seorang ilustrator yang menjadi salah satu blog-correspondent perwakilan wilayah Asia di Urban Sketchers .}

source:  http://cedharrsketchbook.blogspot.jp/2009/07/0035-sketch-equipments.html


 Ini adalah sketch tools yang menjadi favorit saya, khusus untuk area kecil/A6-A5.

A. Pigma Micropen; paling favorit ukuran 0.05. drawing pen jenis ini memiliki garis yg akurat, tajam dan tidak luntur. cocok untuk teknik line and wash.

B. Snowman Drawing Pen; disamping untuk skets saya sering menggunakannya untuk line art ilustrasi. cukup tajam dan water proof.

C. Fountain Pen; memiliki karakter goresan yang tajam dan ekspresif. untuk ukuran standard/fine cocok untuk skets. sayang tinta yang beredar di pasaran kebanyakan tidak water proof sehingga untuk teknik line and wash tidak cocok. Platinum Carbon Ink adalah salah satu tinta khusus untuk isi fountain pen yang tidak luntur. untuk mendapatkannya harus titip teman yg kebetulan ke luar negri atau beli via internet.

D. Kenko Hi-Tech-H #0.28; ballpoint jenis gel pen ini mempunyai ujung goresan yang tajam dan keras. cocok untuk stroke yang kasar. ballpoint ini mulai susah ditemukan di stationary. jenis lain yang mirip adalah Pilot Hi-Tec-c (sekilas mirip, siapa meniru siapa nih...).

E. Pensil B atau 2B.

F. Water Brush; produk Sakura ini sangat efektif untuk dibawa saat kita berpergian, karena di dalamnya terdapat water tank yang siap pakai dan cocok berpasangan dengan cat air jenis cake (half pans).

G. Folded Brush; kuas dengan penutup ini melindungi dan menjaga bulu-bulu kuas dari berbagai kemungkinan kerusakan akibat tertekan atau terantuk benda lain. Sayang kuas jenis ini tidak dijual secara bebas melainkan menjadi satu paket dengan cat airnya (saya belum pernah menemukan di art shop).

H. Flat Brush; berguna untuk menyapu bidang yang agak lebar dan cocok untuk memblending dua bidang warna.

{info tambahan dari hasil tanya-jawab di blog beliau}  marker model Drawing pen, Pigma, Pilot, dan pulpen Kenko Hi-Tech tintanya tidak luntur. Hanya tinta untuk fountain pen yang masih luntur. Sebenarnya ada tinta khusus untuk  fountain pen yang tahan air, namanya PLATINUM CARBON INK, tapi tinta ini jarang bahkan mungkin tidak masuk di Indonesia.  Beberapa sketser di Singapore pakai fountain pen dengan  pewarnaan cat air.
 

Ballpoint jenis Pilot dan Kenko Hi Tech tidak boleh terjatuh apalagi pas  kena ujungnya, tintanya akan langsung macet. Kedua jenis pulpen ini paling cocok di kertas yang permukaannya halus, agak sensitif bila dipakai di bidang yg kasar.


Cotman Watercolor for sketcher (by Windsor&Newton) berisi 12 pans (half pans) dengan warna-warna standar. Pada seri ini, desain produknya sangat nenarik dan efektif untuk di bawa kemana saja. Dalam satu kotak kecil (kondisi tertutup; 65x125x35mm) sudah dapat mengakomodasi water supply, jar/brush washer, 1 buah folded brush dan 12 half pans. Bila ‘cake’ pans-nya sudah habis tinggal mengganti pans baru (refill).
Seri ini cocok untuk out door sketching.




Bila memungkinkan, satu buah kursi lipat kecil (banyak orang menyebutnya kursi mancing) yang mudah dibawa cukup penting untuk melengkapi kegiatan field sketch kita, karena saat kita ‘nyeket’ tidak selalu tersedia sesuatu sebagai tempat duduk. Dan yang lebih penting lagi, posisi duduk kita harus sesuai dengan angle yang kita inginkan.

{Nah, berikut adalah list toko buku dan art shop yang pernah di jajal oleh Bang Chedarr yang sepertinya 'wajib singgah' buat kita-kita yang lagi hunting peralatan sketch, khususnya sketch book.  List ini hasil tanya-jawab di blog beliau dengan beberapa sketser pemula, termasuk saya sendiri.}

1. - Toko buku Gunung Agung Jl. Kwitang, Jakarta Pusat
    - Mal Senayan City

2. - Toko Buku Gramedia, mall Pondok Indah I, Jakarta Selatan
    - Tk Bk Gramedia Matraman, Matraman Kampung melayu, Jakarta Selatan


3. Arte Media, jl. arteri pondok indah.

4. Widayat Art Supplies,  Pasa Raya Blok M, lt 12 Jakarta Selatan

5. Toko Prapatan, jl Fatmawati depan Plaza Telkom Jakarta Selatan

Nov 7, 2013

Thanks to Camane Craft ^^

Sebenarnya sarung bantal buatan Camane Craft sudah jadi sejak Agustus 2013, tapi belum sempat dipakai karena ukurannya agak besar dibanding bantal kursi yang ada di rumah.  Ada cerita sedih dibalik proses pengantaran sarung bantal ini.  Sehari setelah Ekbess (juragannya Camane Craft) menghubungi akan datang mengantar, malam harinya rumah Ekbess kerampokan :(    Shock sekaligus sedih rasanya mengingat jarak rumah kami yang lumayan 'dekat' tapi tidak bisa melakukan apa-apa karena lagi berada di luar kota.  

Touch down Kyoto, akhirnya sarung bantal ini  dipakai juga setelah mendapatkan bantal isian dengan ukuran yang pas.  Arigatou Gozaimasu ya kakak Ekbess.  Sarung bantalnya duluan mendarat di Jepun, moga-moga kakak Ekbess bisa menyusul ya, amien! :))

Nov 6, 2013

Pengumuman Pemenang Giveaway 'Seratus Persen Dianggap Buku Puisi'

Minna san, Konnichiwa!

Dua buah buku antologi "Seratus Persen Dianggap Buku Puisi" ini masing-masing menjadi milik Vindy Putri dan Iin.  Selamat buat para pemenang!  Email alamat rumah kalian ke perduliart@gmail.com yah..

Buat yang belum berhasil, jangan berkecil hati.  Masih ada giveaway yang lebih seru di postingan mendatang (*clue-nya: sesuatu yang khas Jepang deh pokoknya) jadi..tongkrongin terus yah ^^

Mata ne!


Nov 3, 2013

Sepatu Ninja Bercorak + SouSou = Katsugi Wakisaka

21 September 2013, ini kali kedua bagi saya untuk terbang menuju negeri Totto-chan.  Ada yang sedikit berbeda saat akan ckeck-in di ruang keberangkatan Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali.  Antrian menuju Osaka cukup panjang dan lama, tapi tidak begitu terasa karena ada sesuatu yang menarik perhatianku: sepatu ninja!  Pasangan muda asal Jepang yang antri di depan kami menggunakan sepatu ninja bercorak cerah ceria, sangat kontemporer pokoknya.  

Jika peribahasa mengatakan "dari mata turun ke hati", maka dalam hal ini berlaku "dari kaki naik ke hati".  Sejak pertama kali melihat sepatu ninja mereka, saya langsung jatuh cinta dengan benda itu.  Untung juga antrian  kala itu lumayan panjang, jadi saya bisa berlama-lama mengamati, mengagumi dan mengambil beberapa gambar dengan kamera saku, sembari mencari alasan yang tepat untuk bisa ngobrol dengan mereka.  

Meminta bantuan salah satunya untuk memotret kami sekeluarga menjadi ide yang paling brilliant kala itu.  Sesi foto-foto pun usai, dan mengalirlah pujian dari kami untuk sepatu ninja yang mereka gunakan.  Berhubung English mereka terbata-bata pun bahasa Jepang kami yang pas-pasan, akhirnya jawaban kunci ini saja yang cukup memenuhi rasa penasaranku:  "yes, this made in Kyoto.  You can buy at Soso (*kedengarannya seperti itu).  My friend work at there," jawab si gadis Jepang sementara pasangannya memberikan kartu namanya padaku.  Obrolan kami pun berakhir dengan foto bareng.

SOU · SOU - begitulah yang tercetak di kartu nama, lengkap dengan alamat web site.  Saat itu juga saya sudah bisa membayangkan apa yang akan saya kenakan saat turun dari pesawat kelak kembali ke tanah air:  sepatu ninja SouSou!  Ya, sesederhana itu saja :))





Istilah Jepang untuk sepatu ninja tadi adalah 'jika-tabi' (tabi shoes).  Bentuk sepatu dengan bagian jempol terpisah selain berguna untuk menjaga keseimbangan juga membuat pemakainya dapat merasakan dengan baik permukaan tempatnya berpijak. Sehingga tidak heran bila tabi shoes begitu populer dikalangan para pekerja lapangan (outdoor) seperti tukang kebun, penarik becak tradisional, dan pekerja bangunan.  Semakin lama, peminat tabi shoes semakin meluas hingga ke kalangan seniman (taiko drumming, odori dance) dan atlet beladiri tradional.  Saat ini 97% tabi shoes pabrikan yang beredar di pasaran adalah buatan Cina. Namun, SOU · SOU adalah satu-satunya pusat kerajinan tabi shoes di Jepang yang dibuat secara handmade oleh para artisan terbaik di bidangnya.  Itulah sebabnya memakai sepatu ninja SOU · SOU merupakan sebuah prestise tersendiri dikalangan fahionista. 

http://www.sousouus.com/product-category/tabi-shoes/split-toes-tabi-shoes/

Adalah Katsugi Wakisaka, seorang textile designer yang berada dibalik corak cerah ceria-nya berbagai sepatu ninja tadi.  Lahir di Kyoto pada 1944 dan menamatkan pendidikannya di Kyoto School of Art & Design.  Di usia 24 tahun beliau hijrah ke Finlandia dan menjadi textile designer pertama asal Jepang yang bekerja di Marimekko, sebuah perusahaan textil ternama di sana.  Karyanya yang booming di tahun 1970-an adalah 'Bo Boo' berupa motif kendaraan berwarna-warni, menjadi koleksi kebanggaan Marimekko yang begitu diminati oleh kalangan anak-anak di banyak negara bahkan hingga saat iniTahun 1986 Wakisaka memutuskan untuk pulang kampung, dan menetap di Kyoto seraya merintis  berdirinya SOU · SOU bersama  kedua rekannya: Hisanobu Tsujimura (arsitek) dan Takeshi Wakabayashi (produser dan perancang busana).  

Cikal bakal ilustrasi yang digunakan dalam produk SOU · SOU yang sangat eye catching berasal dari kartu pos yang dikirim buat istrinya semenjak Wakisaka menetap di Finlandia.  Permainan warna-warna terang dan karakter yang simple memang merupakan ciri khas ilustrasi Wakisaka.  Terinspirasi dari panorama alam sekitarnya yang kemudian dilukiskan ke lembaran kartu pos kosong berupa pola-pola tradional khas Jepang.  Ritual ini tetap dilakoninya dan sampai sekarang kartu pos hasil karyanya mencapai 10.000 lebih, seluruhnya tentu saja didedikasikan semata-mata untuk sang istri tercinta :') 

souce: http://www.sousouus.com/about/about-the-textile-design/
source: http://sousousf.blogspot.jp/2010/12/visiting-katsuji-wakisaka-studio.html
source:  http://www.flickr.com/photos/bronhoffer/2598832656/in/photostream/

"Bo Boo"

karya teranyar Wakisaka

source:  http://www.flickriver.com/photos/43535523@N05/
source:  http://www.flickriver.com/photos/43535523@N05/
source:  http://www.flickriver.com/photos/43535523@N05/

SOU · SOU sendiri merupakan brand ternama dari Kyoto dengan konsep design modern berbasis tradisi asli Jepang. SOU · SOU (baca: SOSO, disambung tanpa spasi) jika diartikan adalah 'ya-ya' diambil dari kata yang sering terdapat dalam percakapan sehari-hari di kalangan masyarakat Jepang terkini, yah semacam bahasa gaul lah.  Saya sering melihat penggunaan kata ini pada mereka yang jika memahami atau mengerti pembicaraan lawan bicaranya, mereka akan berkata 'soso' sambil mengangguk-angguk mengerti 

Launching di tahun 2003 dengan me-release 2300 pasang jika-tabi sebagai produk perdananya. Hingga kini, SOU · SOU berkolaborasi dengan beberapa brand internasional seperti le Coq Sportif, Wacoal, Lumix dan iPhone.  Produknya pun semakin beragam, antara lain: 
  • Kikoromo (pakaian wanita yang terinspirasi dari Kimono)
  • Kei-i (pakaian pria yang terinspirasi dari pemain teater Kabuki)
  • Warabe-gi (pakaian anak yang terinspirasi dari imajinasi anak yang ceria)
  • Shitsurai (kain dan peralatan rumah tangga)
  • Hotei (tas dan dompet)
Kembali ke topik sepatu ninja bercorak, jika untuk mendapatkan sepatu ninja buatan SOU · SOU saya harus merogoh kocek hingga 8.190 yen (sekitar Rp 800.000 lebih *benar-benar harus menabung nih!), maka hari ini saya merasa beruntung bisa mendapatkan merchandise 'gratisan' dari majalah SOU · SOU (edisi ultah yang ke-10).  Cukup dengan membayar 1.650 yen, majalah edisi khusus plus bonus sling bag berbahan canvas sudah bisa dibawa pulang.  Lumayan lah...itung-itung koleksi  SOU · SOU pertama saya.  Moga-moga jika-tabi nya juga kesampaian jadi koleksi  SOU · SOU saya berikutnya :))