Oct 29, 2011

'Studio Pertapaan' Pak Bachtiar Hafied

Minggu pertama di bulan Januari 2010, akhirnya berkesempatan mengunjungi studio kerja Pak Bachtiar Hafied di salah satu ruangan dalam kompleks Benteng Fort Rotterdam.  Adalah Anggie, yang menemani kami menemui mantan guru menggambarnya sejak ia masih kanak-kanak. Sebelumnya, saya pernah minta ditemani oleh Mas Hady (pelukis pensil Conte) yang memang sering mangkal di gedung DKM Fort Rotterdam.  Namun selalu saja dia menolak dengan alasan tidak cukup berani untuk mendekati 'pertapaan' Pak Bachtiar Hafied.  Dan memang menurut Anggie, Pak Bachtiar juga tidak sembarangan mau menerima orang asing untuk masuk dalam studionya.  Beruntung bagi saya saat itu bisa diterima, ngobrol bareng dan yang paling penting diperbolehkan mengambil gambar di dalam studionya.

Di era 80-90an, melalui Sanggar Ujung Pandang, setiap seminggu sekali beliau muncul dalam acara Mari Menggambar  di TVRI Makassar.  Namun akhir-akhir ini beliau menarik diri dari hiruk pikuk duniawi dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan 'bertapa' dalam studionya.  Yang dilakukan selama 'bertapa' tidak lain adalah berzikir dan berpuasa, hingga akhirnya beliau mendapat visualisasi tentang apa yang akan di lukisannya kelak.  Beberapa tokoh yang berhasil dilukisnya berdasarkan hasil 'penerawangan batin' beliau antara lain Arung Palakka, Sultan Hasanuddin, Syekh Yusuf dan ayahandanya, Pangeran Diponegoro, Cornelis Spelman, dan Mirna, seorang gadis Portugis yang kepalanya di penggal oleh tentara Belanda.

Pangeran Diponegoro
atas: Ayahanda Syekh Yusuf | bawah:  Syekh Yusuf
Sultan Hasanuddin

Arung Palakka
Cornelis Spelman
Mirna


karya teranyar Pak Bachtiar, berupa kata-kata mutiara Bugis yang dilukis dalam huruf Lontara' menggunakan cat minyak di atas kanvas

Oct 28, 2011

Indonesia's Sketchers Makassar

Januari 2010, saatnya kembali ke kampung halaman.   Misi utama adalah memperkenalkan komunitas Indonesia's Sketchers kepada  teman-teman di Makassar.  
Adalah Bang Zaenal Beta yang kemudian menjadi pembimbing sekaligus pembina kami, mengingat pengalaman live sketching beliau telah dimulai sejak tahun 1980-an. 
Sebelumnya, cukup banyak yang datang menemui Bang Zaenal untuk belajar membuat sketsa, namun selama ini mereka berbasis pada sket foto.  Nah, untuk  menggalakkan kembali seni live sketching, Bang Zaenal sangat bersemangat ketika mendengar pemaparan kami tentang idealisme Indonesia's Sketchers.  Dikarenakan bengkel kerja Bang Zaenal berada di salah satu gedung di Benteng Rotterdam, dan di hari Minggu mayoritas dari kami tidak memiliki agenda apa-apa, maka di hari Minggu itu disepakati sebagai pertemuan pertama bersama teman-teman dari Jurusan Seni UNM (Universitas Negeri Makassar).  Berlokasi di Benteng Fort Rotterdam, kegiatan live sketching pertama yang mengusung idealisme 'we draw what we witness' pun berlangsung
'foto keluarga' IS-Mks perdana, berawal dengan enam orang saja

Oct 27, 2011

Biennale X Jogya

Desember 2009, DIY Jogyakarta menggelar Biennale X.  Selama ini membaca tentang Biennale hanya dari majalah Visual Art, namun kali ini berkesempatan bisa melihat dan merasakan langsung atmosfer Biennale itu kayak apa sih?  Sebenarnya posisi saya kala itu tidak lebih sebagai 'turis lokal' yang liburan sehari di Jogya bertepatan saat Jogya menggelar Biennale X.  Jelas tidak banyak bisa share tentang Biennale ke-X secara lebih mendalam, selain foto-foto narsis yang sebenarnya untuk arsip pribadi (alasan pertama: backup data kalau-kalau laptop kena virus, alasan kedua:  karena memori jangka pendek saya seburuk ikan mas koki..)

di ruangan ini diperdengarkan suara S. Sudjojono yang menceritakan pengalamannya saat meminta para muridnya melukis rumah dan halamannya.  salah seorang muridnya melukis menggunakan banyak cat hijau hingga lukisannya terlihat kehijau-hijauan. aneh memang, tapi itulah yang membuat lukisan itu menjadi satu-satunya yang paling berkarakter.
Poster fenomenal karya pelukis Affandi pesanan Presiden Soekarno.  Yang menjadi model saat itu adalah pelukis Dullah, Kata-kata di poster atas usulan penyair Chairil Anwar, idenya dari sapaan para PSK yang mangkal di Pasar Senen kepada setiap lelaki yang melintas... 
jadikan saya murid kalian...

Oct 26, 2011

Ebru, seni lukis awan

photo by : Rohman Yuliawan
Agustus 2009, berkesempatan menghadiri Asia Africa Art Festival yang diadakan di Sanur.  Sebagai perwakilan dari SPC, kami diundang untuk turut berpartisipasi dalam pameran lukisan yang digelar di Diwangkara Hotel.  Satu pengalaman berharga yang kami dapatkan adalah saat menyaksikan langsung workshop seni lukis 'Ebru' oleh Salih Elhan (72), seorang seniman asal Turki. 


Ebru, kata dalam bahasa Turki yang artinya “awan” atau “berawan”, berasal dari kata “ebre”, bahasa Asia Tengah, yang artinya bahan berbarik-barik atau kertas.

Sebuah tulisan tentang seni lukis 'awan' dari jaman dinasti Tang (618-907) menyebutkan tentang proses mewarnai kertas lewat air dengan lima warna.  Kuat dugaan inilah cikal bakal seni lukis 'awan' yang kemudian menyebar hingga ke Iran melalui Jalan Sutra.  'Ebru' di Iran digunakan untuk mewarnai sampul naskah maupun kitab.  Seni Ebru kemudian menjalar hinga ke Anatolia, dan Turki bagian Asia. Sejak pertengahan abad ke-15 Ebru dikenal sebagai seni Turki, yaitu membuat corak pada kertas.  Pada masa itu, teknik Ebru adalah mencipratkan cat yang mengandung empedu sapi ke permukaan air yang sudah dicampur “kitre” (getah tragacanth). Kemudian corak yang telah terbentuk 'diambil' dengan menggunakan kertas  yang diletakkan ke permukaan cairan sehingga corak warna di permukaan cairan tadi menempel ke kertas. (dikutip dari berbagai sumber)

Ketika mendapat kesempatan mencobanya secara langsung, saya akhirnya bisa merasakan melukis diatas kanvas air :)  Mula-mula, pada permukaan 'kanvas air' tersebut diteteskan cat yang disebar kebeberapa titik.  Layaknya gumpalan minyak yang mengambang di permukaan air, cat tersebut tidak akan larut.  Agar bentuk tetesan cat lebih artistik, digunakan sejenis kawat untuk membentuk permukaannya, sehingga bentuk tetesan cat mengalir mengikuti riak permukaan air.  Inti dari teknik Ebru ini adalah bagaimana kita memahami aliran air sebagai penentu arah pergerakan cat. Jika lukisan telah terbentuk, langkah berikutnya adalah meletakkan ketas secara perlahan-lahan ke permukaan kanvas air, diamkan beberapa detik hingga cat menyerap, kemudian angkat secara perlahan.  Layaknya menyaksikan pertunjukan sulap, lukisan dari kanvas air kini berpindah ke atas kertas!  Selanjutnya kertas dikeringkan seperti biasa.  










Oct 25, 2011

Sketch Book #01 (Juli - Agustus 2009)

A5 Kiky Sketchbook + Lyra Graphite Pencil + Faber Castle Pencil Watercolor
Ini adalah pengalaman pertama 'dimanasajakapansaja' live sketching.  Tidak ada referensi apa-apa sebelum membeli perlengkapan sket.  Yang ada di pikiran saat itu, paling tidak sketch tools nanti bisa 'mobile' lah.  Akhirnya beli buku sket Kiky ukuran A5 karena murah, dan bisa masuk ke tas jinjing emak-emak.  Beli Lyra graphite pencil persoalan bentuknya yang unik, dan beli krayon pensil Faber Castle itu karena bisa dipoles menjadi cat air. 

Kesimpulan:  Untuk mobile sketch book sebaiknya pilih yang tepinya dijilid spiral agar lembar halamannya tidak lepas-lepas seperti yang terjadi pada Sketck Book #01 ini. Daaan sepertinya graphite pencilnya terlalu besar untuk sketchbook ukuran A5, kurang cocok untuk menggambar detil.  Sangat jarang bisa mewarnai mengunakan krayon pensil di lokasi sket (ribet milah-milih dan gonta-ganti pensil), apalagi jika waktunya mepet.  Tapi, itulah seninya jadi pemula :)