Jun 10, 2014

Berkeringat dingin di Jafore Class

Konnichiwa minna san,
Apa kabarnya semua? Senang sekali bisa berbagi cerita ketika menjadi pemateri di Jafore class.  Jafore sendiri adalah sebuah multilingual playgroup yang diselenggarakan pada Senin minggu kedua setiap bulannya.  Adalah Megumi san, orang nomor satu di Jafore yang menghubungi sebulan sebelum hari 'H' tiba.  Tema utamanya adalah  Art.  Saya diminta untuk sharing seputar Perduliar Gallery dan demo live painting.  Membayangkan akan presentasi di depan peserta kelas yang berasal dari beragam negara sukses membuat saya gemetar duluan.  Sebagai ibu beranak empat (tiga diantaranya masih balita), hal yang paling pertama saya lakukan adalah 'membooking' suami agar bisa meluangkan waktunya untuk membantu menjaga salah seorang dari tiga balita kami.  Dua balita yang lain bisa ikut serta karena sepeda 'Mama Chari' hanya bisa muat dua anak :)

Senin, 9 Juni 2014.  Alhamdulillah cuaca cerah ceria.  Ditemani Mba Ulil (yang ikutan membantu membawakan barang-barang dagangan saya di sepedanya), dan Mba Peni (tetangga apato), kita bersepeda menuju Hokkori Heart Demachi  kira-kira selama dua puluh menitan.  Setibanya di lokasi, staff Jafore meyakinkan agar tidak perlu menghawatirkan kedua putri kembar saya karena selama sesi nanti mereka akan ditemani bermain. Asik!  :) 

Pukul 10.50, sesi untuk Perduliar Gallery pun tiba (dan keringat dingin itu dimulai disini...).  Berikut adalah rangkumannya:
  • Pada awalnya, Perduliar adalah nickname yang saya pakai untuk berkarya (khususnya bidang seni rupa), kira-kira sejak tahun 2005.  Perduliar disini mengacu pada Dandelion (bahasa Jepangnya adalah Tanpopo).  Mengapa Dandelion? pertama, karena mereka bisa tumbuh dengan mudah dimana saja tanpa perawatan khusus. Kedua, karena hampir semua anak menyukai Dandelion, bagi mereka Dandelion adalah bunga sekaligus permainan yang ajaib ^^
  • Subjek favorit untuk lukisan cat air saya adalah anak-anak, atau segala yang berhubungan dengan masa kanak-kanak.
  • Ciri khas karya saya adalah simple dan kawaii.  Saya menyakini istilah "Less is More".  Mengapa 'simple'? O well, keseharian saya sudah cukup hectic dengan empat orang anak (sekali lagi, tiga diantaranya masih batita) :) Jadi, berkarya bagi saya adalah sekaligus mencari ketenangan. Dan mengapa 'kawaii'?  Bagi saya pribadi, sesuatu yang kawaii dapat menjadi mood booster.  Dia dapat memberi energi yang positif hingga dapat mengembalikan senyum yang hilang dari wajahmu ^^
  • Artist favorit saya adalah Chihiro Iwasaki.  Saya jatuh cinta pada karyanya di buku Totto Chan (karangan Tetsuko Kuroyanagi), yang saya baca saat hijrah ke Kyoto hampir tiga tahun lalu (agak telat memang) ^^
perserta Jafore class diantaranya berasal dari Indonesia, China, Korea dan Jepang (tentunya)
Megumi san (notulen) dan Reiko san (interpreter)
Sesi berikutnya adalah live sketching.  Begitu Megumi san bertanya siapa yang berminat jadi modelnya, ada lima orang yang menawarkan diri (empat ibu, dan satu gadis kecil), sekali lagi saya mulai berkeringat dingin untuk sesi ini.  Putri Airi san akhirnya  menjadi pemenang setelah sebelumnya bertarung hom-pim-pa dengan keempat ibu tadi. Sebuah kebetulan yang sempurna mengingat objek favorit lukisanku adalah anak-anak :')


 

dirubungi dua putri kembarku :)
Presentasi siang itu berlangsung sukses.  Indikatornya sederhana saja, anak kembarku tidak rewel minta pulang ditengah-tengah acara :)
Pada akhirnya, si gadis kecil bisa membawa pulang hasil live sketching itung-itung omiyage dari Perduliar (tidak lupa dicap pake Hanko lagi, hehe..)

Matane ^^


2 comments: