Sep 2, 2012

Terbang ke Negeri Totto-Chan

Buku Totto-chan pertama kali dipublikasikan pada 1981 (saat itu usia saya masih satu tahun).  30 tahun kemudian saya baru membaca buku tersebut (better late than never, right?).  Berkenalan dengan buku Totto-chan pun sebenarnya merupakan sebuah ketidaksengajaan.   Itu pun kalau tidak berencana tinggal di Jepang, saya mungkin belum membaca buku Totto-chan hingga hari ini.  

Agustus 2011, adalah Kak Ann Sjamsu yang memperkenalkan buku 'pengantar' menuju buku Totto-chan .    Sebuah buku karangan Mba Nesia Andriana Arif berjudul Dengan Pujian, Bukan Kemarahan (Rahasia Pendidikan dari Negeri Sakura).  Mengetahui saya akan membawa ketiga anak saya menetap di Negeri Sakura, menurut Kak Ann buku ini sudah pas sekali dibaca seorang ibu Indonesia yang sedang membesarkan anak usia sekolah dasar.  

buku koleksi kak Ann yang 'terpinjam' sampai ke Jepang 

Prolog dibuka dengan cerita singkat mengenai buku Totto-chan, dan bagaimana karakter si gadis kecil bernama Totto-chan serta kisah hidupnya begitu kuat mempengaruhi sudut pandang Mba Nesia.  Hingga akhirnya Mba Nesia bisa melahirkan buku berisi pelajaran kehidupan yang didapatnya dalam posisinya sebagai seorang ibu.  "Sedemikan hebatnya kah buku Totto-chan itu?" saya membatin.

September 2011, saat mengitari Gramedia Panakukkang-Makassar mata saya tertuju pada sebuah buku dengan ilustrasi sketsa sederhana seorang anak perempuan yang sedang duduk tergambar disampul putihnya (terus terang saya langsung jatuh cinta pada buku itu karena covernya). Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela, begitulah judul yang tertera di hard covernya.   Di sebelahnya terpajang buku berjudul Totto-chan's Children.       Sepertinya memang sudah ditakdirkan agar saya bertemu dengan buku ini.  Saya tidak berfikir dua kali untuk segera memboyong keduanya ke rumah :)


Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela terdiri dari 264 sub judul yang ditulis dengan gaya bertutur yang sangat ringan dan mudah dipahami.  Rupanya Mba Nesia (pada buku karyanya) juga mengikut pada gaya bertutur seperti di buku Totto-chan ini.  Kisah Totto-chan kecil dan jalinan persahabatan dengan teman-teman sekelasnya memang sangat memberi inspirasi.  Tanpa sadar, saya memulai blog ini pun karena terinspirasi dari buku Totto-chan.  Selain membaca kisahnya yang indah, hal lain yang berhasil mencuri perhatian saya adalah sisipan sketsa-sketsa  karya Chihiro Iwasaki.  "Garis Dewa" adalah istilah pribadi saya untuk sketsa dengan tarikan garis yang begitu spontan dan minimalis.  Menatap ilustrasi karya Chihiro membuat saya begitu terkagum-kagum berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan.  



akhirnya buku ini bisa merayakan musim sakura di negerinya 

Maret 2012 saya bertolak dari Makassar menuju negeri Totto-chan, menemani suami yang sekolah lagi.  Berbekal buku karya  Mba Nesia, saya siap menjalani hari-hari saya sebagai ibu dari tiga orang anak  Sedangkan buku Totto-chan akan mengawal hari-hari anak sulung saya (yang seusia denganTotto-chan) selama bersekolah di Negeri Sakura ini.  Bahwasanya sekolah adalah tempat untuk bermain dan bersenang-senang dengan seluruh teman kelas.  

'kelas gerbong kereta' di taman bermain yang hanya berjarak  500 meter dari apato kami :)



Agustus 2012, takdirlah yang mempertemukan saya dengan buku ilustrasi karya Chihiro Iwasaki di toko buku sebuah pusat perbelanjaan dekat apato kami.  Saya anggap takdir kerena buku itu tinggal satu unit  yang terpajang di rak.  Bukan main girangnya saya menemukan 'kitab suci' ini.  Kenapa girang? Karena saat ini saya sedang memperdalam kemampuan mensketsa dan menggunakan cat air.  Sedangkan buku ilustrasi Chihiro ini menyangkut keduanya.  "Sketsa + Cat Air = Chihiro Iwasaki" demikianlah rumus sepihak dari saya pribadi. 


Totto-chan lah yang memperkenalkanku pada Chihiro Iwasaki

seperti menikmati ilustrasi Totto-chan versi berwarna :)

saya membayangkan beginilah Totto-chan dan  kawan-kawannya

menyisipkan hasil gambar sendiri ke tengah-tengah halaman buku, semoga  aura-aura magic Chihiro menular ke karyaku (ah, betapa konyolnya!) 

Meskipun seluruh teks dalam buku ini menggunakan karakter kanji, hal itu saya sama sekali bukan masalah bagi saya yang belum melek huruf-huruf Jepang, bukankah ilustrasi adalah bahasa universal? Saya sangat bersyukur atas semua yang saya dapatkan hingga saat ini.  Bisa menetap negeri Totto-chan adalah hal yang sama sekali diluar dugaan saya.  Cita-cita terbesar yang belum kesampaian adalah mengunjungi museum Chihiro Iwasaki di Tokyo dan Azumino (Nagano).  Semoga bisa terlaksana, kapan pun waktunya :))

No comments:

Post a Comment